Jogjapedia


Komunitas LUMBUNG AKSARA: Kegelisahan (Regenerasi) Sastrawan “Pinggiran”

Jogja Kultur | 2019-01-11 | Penulis : Marwan M Syam

Kegelisahan sebagai Benih

            Kegelisahan, dimanapun berada, memang selalu tak mengenakkan. Tapi barangkali itulah fitrah yang mesti dialami oleh seorang yang bergerak di dunia kreatif, seperti halnya dunia kepenulisan. Menjalani hidup sebagai penulis (pengarang) adalah menempatkan diri pada pusaran kegelisahan –yang justru kian gurih dinikmati tatkala jawab itu tiada kunjung datang.

            “Tapi akan lebih gurih dan bergizi jika hal itu dinikmati bareng-bareng”, usul seorang teman. Berangkat dari usul teman itulah maka pada bulan Mei 2006 beberapa anak muda di Kulonprogo yang punya ketertarikan pada dunia sastra atau kepenulisan mencoba membentuk  sebuah komunitas sastra.  

            Lumbung Aksara adalah nama yang kemudian disepakati sebagai tetenger. Mengapa memilih  Lumbung Aksara ?  Sebagaimana anjuran bijak bahwa di dalam nama itu terkandung doa, pun dalam nama “Lumbung Aksara”. Meski setelah kami konsultasikan ke “orang tua” nama Lumbung Aksara katanya terlalu “tinggi” (bahkan saat itu kami dianggap “nranyak”), tapi kami memaknai secara simpel saja. Persisnya begini:

Di kalangan masyarakat “Lumbung” adalah tempat untuk menyimpan padi (kebutuhan pokok) yang menyangga keberlangsungan hidup mereka.  Jika lumbung tadi kosong, maka limbung-lah (krisis dan terancam jiwanya) sang pemilik. Nah, bagi kami (para penulis) keberlangsungan hidup manusia (beserta kebudayaan dalam arti luas) tak hanya tergantung pada “padi” (aspek ekonomi) namun lebih esensi lagi oleh “Aksara”. Dengan senantiasa ngurip-urip “Aksara”, hemat kami, akan tetap hiduplah kebudayaan manusia.  Dari filosofi itu pula maka komunitas Lumbung Aksara (LA) memilih Membaca-Menulis, Menjaga Hidup sebagai semacam motto.

 Tak banyak memang, person yang terlibat pada awal berdirinya komunitas LA Ya, sekitar lima orang, yakni Marwanto, Dewi Fatimah, Akhiriyati Sundari, Samsul Ma’arif, dan Aris Zurkhasanah. Tapi kami punya pendirian: menanam benih itu tak perlu banyak orang, tapi butuh keyakinan. Namun setelah pertemuan awal yang hanya diikuti sekitar lima orang tadi, setelah melakukan sejumlah kegiatan, akhirnya banyak kalangan muda Kulonprogo tertarik dan ikut gabung dengan Komunitas Lumbung Aksara, diantaranya: Didik Komaidi, Zukhruf Latif, Siti Masitoh, Fajar R. Ayuningtyas, Utik TW, Rio Nisafa, Asti Widakdo, Burhanul Fahruda, Imam Wahyudi, Diana Trisnawati, Siti Suwarsih, Nurul Naviyanti, dan lain-lain.

            Dengan keyakinan itu pula, kami mencoba “mematahkan” adegium yang sementara ini berlaku di dunia kepenulisan (sastra): bahwa proses kreatif itu pada dasarnya soal pribadi. Kami sadar akan hal ini, namun menumbuhkan iklim yang kondusif bagi maraknya dunia kepenulisan tetap perlu. Sebab, hal itu merupakan rangsangan yang luar biasa –bagaimana langkah seterusnya tentu tergantung para pribadi masing-masing (penulis) dalam menanggapinya.

Antologi SGSI:  Lahan Awal

Setelah benih (keyakinan) didapat, maka seperti orang yang mau bercocok tanam, yang kami butuhkan adalah lahan. Dan barangkali ada beragam pertanyaan (kritik) ketika lahan awal yang kami pilih saat itu adalah menerbitkan buku antologi puisi.  Mengapa antologi puisi? Tidak dari yang sederhana macam buletin atau lembar budaya/sastra saja?

Ini sebenarnya soal strategi saja. Semua media (lahan) kami anggap baik dan positif. Namun, untuk konteks Kulonprogo saat itu (dimana telah lebih dari lima tahun kegiatan bersastra mandeg “total”), terasa kurang greget jika langkah awal kami hanya menerbitkan buletin. Selain itu, dengan antologi kami langsung bisa menghimpun potensi banyak penulis yang bisa dimunculkan.

Akhirnya, buku antologi puisi yang berisi karya “penyair-penyair” Kulonprogo tersebut berhasil kami terbitkan dengan judul“Seorang Gadis, Sesobek Indonesia” (SGSI) –dan di launching pada tanggal 19 September 2006 dengan narasumber almarhum Zainal Ariffin Thoha (penyair dan pengasuh PP Hasyim Asy’ari Krapyak Yogyakarta). Meski kemudian banyak kritik yang dialamatkan pada terbitnya buku tersebut namun realita menunjukkan bahwa SGSI telah menjadi buku antologi puisi perdana yang berisi karya penyair Kulonprogo.

Selesai menerbitkan SGSI, kami tak mau dianggap “sekali berarti, sesudah itu mati”.  Maka, lahan berikutnya yang kami butuhkan adalah penerbitan buletin sastra.  Dari beberapa usulan nama, “Lontar” terpilih untuk menamai buletin sastra yang kami terbitkan setiap bulan.  Pilihan nama “Lontar” juga tak sepi dari kritik. Secara agak guyon, Saut Situmorang pernah berkelakar: “Gimana kalau nanti (buletin) Lontar disomasi oleh Goenawan Mohamad? Diubah jadi Lontar-e aja…”  Kami hanya tersenyum waktu itu.

Hingga bulan Juni kemarin, buletin Lontar yang memiliki tebal 8 halaman telah menginjak edisi ke-7 –dan setiap bulan terbit 500 eksemplar dengan biaya sendiri.  (Kalau pembiayaan semacam  ini “terpaksa” kami singgung, semata kami ingin mengubah persepsi bahwa minta anggaran kegiatan bersastra pada pemerintah bukan sesuatu yang tabu. Sebab, sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk membagi uang rakyat ke semua pos kehidupan berbangsa dan bernegara).

Pupuk: dari TP hingga TBM

            Kini, benih kreatifitas sastra di Kulonprogo telah kami tabur pada berbagai lahan. Entah nanti seperti apa yang bisa dituai. Namun satu hal yang pasti, adalah kewajiban kami untuk merawat dan memupuknya. Beragam kegiatan –baik yang bulanan maupun tahunan-- telah kami programkan. Program bulanan pertama adalah Tadarus Puisi (TP).   

TP adalah pertemuan kecil yang didalamnya berisi pembacaan dan penelaahan puisi. TP biasanya digunakan sebagai wahana untuk me-launching Lontar. Jadi, puisi yang dibaca dan ditelaah pada tiap TP adalah yang dimuat di Lontar edisi bersangkutan –pengecualian pada TP perdana, yang waktu itu menghadirkan narasumber Joni Ariadinata (redaktur malajah Horison) dan Aguk Irawan MN (penulis novel Kitab Dusta dari Surga), menjadi ajang curhat antara sastrawan pusat dan pinggiran.

Pengecualian lain pada TP ke-6 --dengan menghadirkan Hasta Indriyana (komunitas Tandabaca Yogyakarta)—yang menjadi ajang semacam pembelajaran menulis puisi. Dan memang, sekali waktu, di program TP ini kami buat tema dan narasumber khusus –semata demi menghindari kejemuan.

Kegiatan bulanan lainnya adalah Baca Buku Sastra (BBS). Semula, program yang dimulai bulan Februari 2007 ini dinamai Bedah Buku Sastra, namun karena kata “bedah” terkesan berat, diubahlah “baca”. BBC adalah diskusi kecil yang menghadirkan satu narasumber yang membahas atau menceritakan pengalamannya setelah membaca buku sastra. Namun, untuk menghindari kebosanan pula, sekali tempo BBC kami konsep dalam artian “bedah buku”, dengan gelaran acara yang lebih besar dan bekerjasama dengan penerbit.

Untuk program tahunan, sementara ini ada dua. Pertama, Pembelajaran Menulis Kreatif (PMK) yang tahun ini berlangsung tanggal 14-15 Juli. Kedua, Lomba Cipta Sastra (LCS),  yang direncanakan pada akhir tahun.

Sejujurrnya,  program tersebut sudah sangat menyita waktu kami, teman-teman di komunitas LA.  Bahkan, pada awalnya, hal ini cukup mengganggu proses kreatifitas menulis anggota komunitas. Namun, kegelisahan untuk memiliki perpustakaan komunitas sungguh tak tertahankan.  Benih dari program ini sungguh sangat simpel. Yakni: anggota komunitas mengumpulkan daftar  kepemilikan bukunya lalu diedarkan pada setiap pertemuan (baik TP maupun BBC) untuk ditawarkan dan dipinjamkan.

Alhamdulillah, program ini berlanjut dengan pendirian taman bacaan masyarakat (TBM) Lumbung Aksara. Rencananya, kami akan memfasilitasi terbentuknya empat atau lima TBM Lumbung Aksara di wilayah pinggiran Kulonprogo sebagai alternatif dari perpustakaan daerah yang letaknya di pusat kota kabupaten.

Regenerasi: Selalu Menggelisahkan…

Banyaknya kegiatan komunitas LA di atas tentu bukan semata untuk menjawab kegelisahan kami. Dengan kata lain, keberhasilan program LA tak otomatis membuat kegelisahan kami mandeg. Satu hal yang terus menggelisahkan kami adalah persoalan regenerasi (sastrawan) di Kulonprogo. Sejak meninggalnya Mahatmanto (HB Jassin dalam bukunya Tonggak dan Nani Tuloli dalam buku Penyair dan Sajaknya: 1920-1990 memasukkan Mahatmanto sebagai salah satu penyair papan atas Angkatan ‘45 bersama Trisno Sumardjo, Usmar Ismail, Chairil Anwar, Asrul Sani, M Balfas, Sitor Situmorang, Toto Sudarto Bachtiar, dan Harijadi S. Hartowardoyo,) seakan Kulonprogo sepi dari gaung sastrawan yang mampu tampil di kancah nasional.  

Memang kemudian muncul nama-nama yang meramaikan dunia sastra di Kulonprogo di tahun 1980-an semisal  Marjudin Sueb, Soegiyono MS, Joko Budhiarto, Pribadi, atau yang lebih muda semacam Teguh Winarso atau Satmoko Budi Santosa. Namun persoalannya tak hanya terletak pada apakah ada sastrawan Kulonprogo yang mampu tampil di kancah nasional atau tidak.  –-Sebab  seiirng dengan, istilahnya Nirwan Dewanto (Senjakala Kebudayaan:  hlm 54), “pusat yang meluruh” maka gelora kegiatan sastra di daerah (pinggiran) pun acapkali diakui “sama pentingya” dengan gemuruh sastra di pusat.   

Alhasil, terpenggalnya regenerasi (sastrawan) Kulonprogo itulah pokoknya.  Mereka yang tampil seakan sebagai sebuah kebetulan sejarah, ahistoris. Apa memang  demikianlah kemunculan sosok di dunia sastra? Komunitas LA hadir ingin mematahkan asumsi tersebut.

  • Referensi:

    *Profil Komunitas Lumbung Aksara ini pernah dimuat di Buletin sastra PAWON, Edisi 07/Th.I/2007