Jogjapedia


PLEIDOI PEMBAYUN

Jogja Kultur | 2019-01-11 | Penulis : Sigit Sugito

I

 

Aku Pembayun

Ayahku Gunung Merapi

Ibuku Laut Jawa

 

Aku lahir dalam Istana

Sebagai seorang Putri

Sejak kecil aku dilatih Menari

 

Maka gerak mendhak yang diajarkan

Agar aku bisa mandhah dalam tindakan

 

Biar paham gejolak kepundan Merapi

Biar tangkas menangkap gerak ombak lautan

 

Sebagai seorang Penari aku teruji

Memainkan gerak bidadari

Memindah Matahari masuk ke dalam Cepuri

 

Sebagai seorang Wanita

Aku  tangkas memainkan senjata

Apalagi terlibat urusan Negara

 

Tapi bagaimana aku harus bersikap

Dalam himpitan beban persoalan

Pada pilihan pelik yang harus kutanggungkan

Tangan kanan memegang tombak

Tangan kiri menggenggam batu

Tapi di sebalik semua itu adalah urusan Negara

Kekuasaan dan Kebesaran Kerajaan

Adalah ujung pangkalnya

 

Lantas kepada siapa aku musti mengadu

Agar semua bisa mendengar jeritanku?

 

 

II

 

Aku Pembayun

Penari berpanggung jalanan

Menyapa tepian kali

Menyusur bukit kapur

 

Menanggung beban Negara

Menjadi senapati sesungguhnya

 

Aku lepas wewangian mawar

Kubasuh tubuhku dengan air sendang

Kulepas baju kebesaran

Biar tubuhku akrab dengan alam

 

Dari dusun ke dusun rampak suara gemelan

Mencipta suasana, mengiringi ketika aku kibar

 

Aku berlenggang di tengah kerumunan orang

Laiknya bidadari turun dari gumpalan mega

Tarianku menebar pesona di tengah arena

 

Dalam satu tarikan napasku

Aku rasakan jatuhnya sampur ke tanah

Dan menghempaskan napas laki-laki

Yang panasnya melebihi api

 

Dalam satu putaran kaki

Aku tangkap lelah seorang lelaki

Keringatnya semerbak menyerbuki hutan jati

Aromanya kuat sampai ke luar batas negeri

 

Ia Mangir, laki-laki Penjaga sungai

Kekar tubuhnya menampakkan kejantanan

Sorot matanya tajam mengandung kekuatan

Senyumnya hadir menyimpan kesabaran

Sebagai seorang Penari

Aku Wanita sempurna

Tarianku geliat samudera

Yang menggelegak menggapai hangatnya mentari

Tarianku adalah gejolak jiwa

Seperti asap magma mengepulkan asapnya ke udara

 

O, hanya lelaki itulah yang menyimpan badai

Sehingga tarianku lemah gemulai

 

Bukan ingkar namanya

Seperti yang Ayahanda tuduhkan

Jika sampur kutambatkan di dusun Mangiran

 

Karena hanya di dusun Mangir

Keteduhanku terasa hadir

 

Di Perdikan Mangir Wanabaya

Tanah perdikan yang subur makmur

Adhem ayem kertaraharja

 

Di utara, bukit kapur ditumbuhi pohon pohon jambu

Tempat yang damai bagi aneka satwa bercumbu

 

Di barat, sungai Progo tampak membentang

Airnya mengalir sepanjang musim

Tenang dalam kedamaian

Berbeda dengan suasana di Istana

Panasnya begitu menyengat hingga ke atap-atapnya

Membuat gerah semua penghuninya

Sehingga burung-burungpun enggan bersarang pula

 

Jika Ayahanda setuju

Izinkan aku memilih lelakiku

Dan Mangir adalah pilihanku

 

Sebagai laki-laki dia setia

Bijaksana dan perkasa

Sebagaimana anak turun Wanabaya

Dari garis keluarga Brawijaya

 

Ia menjaga tanah Perdikan

Ribuan garu tanah ia genggam

 

Di timur, dusun Ngringinan

Berbatas dengan wilayah Mataram

Hingga Candhimulya ke selatan

Menyusur Sanden hingga pantai Srandakan

 

Ia tanami juga

Bukit-bukit Kapur di utara

Sebagai tanda batas perdikan pula

 

Ia laki-laki bersahaja

Rumah yang di huninya

Cukup bangunan dari batu bata

 

Kebun di sekitarnya

Ditanami ribuan pohon kelapa

Dan buahnya adalah milik siapa saja

Sebagai anak Wanabaya

Ia suka semedi di Pandansima

Wajar jika dia sakti

Tombak yang dipegangnya adalah lidah api

Ular yang melingkari gunung Merapi

 

Maka, ia dihormati oleh rakyatnya

Sebagaimana matahari dan bumi

Ia tahu persoalan para petani

Hingga rakyat ikhlas memberi bulu bekti

 

Ia seperti menyimpan bulan di keningnya

Mengerti kegelapan dan ia setia menjaganya

 

Ia tangguh sebagai Petani

Sebagaimana leluhur kita

Air dan Udara, Bumi dan Matahari

Sebagai tempat untuk merebahkan diri

 

 

III

 

Aku Pembayun

Ayahku gunung Merapi

Ibuku laut Jawa

 

Akulah Senapati sesungguhnya

Sebagai seorang Puteri aku diutus oleh ayahanda

Untuk bertemu dengan petani

Dan salah satunya Mangir sang Pemberani

 

Dalam setiap aku bertemu

Rakyat selalu menyatakan rindu

Bertemu dengan Puteri Istana

Wakil dari Mataram yang kuasa

 

Aku bersama Mangir, lelakiku

Menyusur kampung ke utara

Meninggalkan tanah perdikan Wanabaya

Menuju ke Istana

 

Dari Gesikan ke Bantul karang

Ada banyak yang bisa aku kenang

 

Aku memasuki dusun Wana Ketawang

Tempat aku menerawang

Apakah aku harus pulang

Atau keinginan itu aku redam

 

Sebelum sampai dusun Nitikan ke timur

Aku seberangi sungai Code

Airnya yang bening sejuk mengalir

 

Aku bersama Mangir, lelakiku

Menyusur kampung ke utara

Meninggalkan tanah perdikan Wanabaya

Menuju Istana

 

Aku Pembayun

Perempuan yang dianggap lemah

Di dalam urusana menata Negera

 

Dari perjalanan ini aku bisa mengerti

Kebutuhan rakyat sejati

Adalah kehidupan yang aman dan damai

 

Kutelusuri dusun demi dusun

Menjemput Matahari hingga mendekap Malam

Menjaga suara hantu dan kepak kelelawar

Sampai terdengar cericit burung pagi hari

 

Suara-suara yang indah

Tetapi harus ditafsirkan

Bahwa sesungguhnya rakyat hanya butuh perhatian

Kesejahteraan dan aman dari segala gangguan

 

Ia Mangir suamiku

Menjadi agak ragu ketika akan bertemu ayahku

Sebagai seorang hamba hanya ada sembah bekti kepada

Istana

Tetapi sebagai seorang menantu

Sehimpun suara menjadi gagu

 

Sesungguhnya ia, Mangir

Bukanlah seorang pemberontak

Hanya karena dianggap salah memilah hasil bumi

Dia menjadi musuh bagi negeri

 

Apa salah Mangir

Jika ia membagi harta dengan rakyatnya

Yang setiap hari ia temui

Dalam kemiskinan yang sejati

 

Rakyat tidak semuanya hidup cukup

Hanya yang bisa bicara dan dekat dengan raja

Ia dapat menumpuk harta

Menyisihkan bulu bekti ditaruh di rumah sendiri

Minta tanda kasih Sang Raja

Masuk ke dalam lekuk jaritnya sendiri

 

Perilaku itu merasuk di seluruh negeri

Maka, ia Mangir menolak segala bentuk upeti

Seharusnya Negaralah yang memberi, bukan diberi!

Agar rakyat santosa dan mandiri

 

 

IV

 

Tapi mengapa ia musti dieksekusi

Sebelum ia menyatakan diri

Menyerah dan pasrah kepada Mataram

Dengan segala sembah bekti

 

Hujan dan badai di luar Istana

Adalah pertanda sesungguhnya

Jika kita belum sepenuhnya menempatkan jiwa

Di dalam mengatur urusan Negara

 

Seharusnya ikrar pernyataan adalah keihlasan

Sebagai landasan utama dalam setiap keputusan

Bukan menempatkan amarah sebagai pilihan

 

Kilat dan petir membawa kabar dari langit

Ia, Mangir dalam situasi terjepit

Mau melawan, ia hadapi mertua

Mau berontak, ia tak kuasa

 

Tetapi mengapa pula di tempat itu

Ada Batu hitam di depan istana

Ayah menerima sembah bekti sesungguhnya

 

O, Gusti Pengeran

Hyang Agung kang amurwat jagat

Hanyutkan airmataku ke muara laut Jawa

Agar dukaku tumpah di sana

Atau lontarkan aku lewat kepundan magma

Agar tuntas segala derita

Apa arti sebuah bahagia

Jika wujud yang sebenarnya sudah tersita

Suamiku mati

Sebelum usia isi rahimku sampai waktunya

 

O, jabang bayi

Mengapa kau menjadi papa

Ketika engkau belum paham dosa

 

Lantas bagaimana nanti aku menjawabnya

Jika ia lahir tanpa ayahnya?

Bagaimana pula jika ia bertanya

Di mana wujud rupa sosok ayahnya?

Diam, tentu bukan jawaban seorang ibu yang bijaksana

Apabila berkata jujur

Aku takut jika dendam nantinya yang tertabur

 

O, aku Pembayun yang sengsara

Aku ditelikung oleh persoalan negara

 

O, Ibu Ratu

Apakah salah jika aku terlahir sebagai seorang wanita

Yang mengandung anak dari seorang musuh Negara?

 

Sedangkan Ayah mengutusku

Seperti seorang Senapati

Maju ke medan tempur menemui seteru

Mengawal Negara dengan segala kekuatanku

 

O, Ibu Ratu

Sebagai wanita penghuni Istana

Ibu pernah bercerita

Bagaimana bahagianya Ayahanda

Ketika menanti kelahiran puteranya

Laki-laki perempuan sama saja

Ayah resah keris diasah

Apakah itu cukup menawar gelisah?

Bukankah kita anak cucu penangkap petir

Mengapa musti takut kepada Mangir?

 

Memilih jalan perang

Tentu rakyat menjadi korban

Mengapa tidak memilih jalan yang lebih aman

Agar rakyat hidup dalam kedamaian

 

Sebagai penguasa Mataram

Ayahanda dipinjami kekuasaan Dewa

Hukum harus dipelihara untuk memuliakan manusia

Adil dan meluapkan budi luhur mulia

Bukan dengan memukul kentongan tanda bahaya

Agar semua rakyat sedia tunduk datang ke Istana

 

Aku masih percaya pada kekuatan cinta dan kasih sayang

Bukan pada sebuah ancaman

 

Mengolah wibawa sebagai kekuatan

Lebih indah daripada menghias dengan ribuan mata

pedang

Demi menjaga Mataram ini

Menjadi negeri yang tenteram dihuni

Tetapi mengapa para penjaga Istana ikut pula curiga

Siap dengan segala aneka senjata di gerbang Istana

Padahal aku pulang ke Rumah sendiri

Datang bersama suami

 

Mereka minta pula senjata Kiai Baru miliknya

Dan dia serahkan pula kepada pengawal raja

Karena dia sadar bukan tombak itu senjata

sebenarnya

Pada bayi di perutku adalah segala kesaktianya

 

Tapi mengapa musti dieksekusi

Di depan mataku sendiri

Di kaki ayahanda pula

Batu itu terbentur di keningnya

 

O, darah

Darah mengalir di kening Mangir

 

O, beban berat ini

Seberat tarian tanpa sesaji kaki

Dan tangan sulit diangkat

Remuk lunglai tubuh ini

 

 

V

 

Yang tak pernah kumengerti

Mengapa Mangir dihukum sebegitu rupa

Jika ia sudah mati

Mengapa jasadnya pun masih juga diadili

 

Bukankah hukuman itu diukur dari tindakan

Itu menurut hukum aturan yang harus ditegakkan

Bukan pada jazad yang sudah membujur diam

Ia sudah menjadi milik alam

Jika Mangir salah

Sudah cukup nyawa tebusannya

Bukan membagi jasadnya

Dengan batas pada kuburnya

 

Hukum Tuhan adalah mengukur tindakan

Jalan baik yang ia kerjakan

Pada niat dan syahadat yang ia sujudkan

 

Ia Mangir, lelakiku

Mati di batu

 

Batu dan batu

Menemu waktu

Kita akan bertemu

 

Ia seperti malam, seperti kelam

Mendekap temaram mengukur subuh

Teduh dan kekar

 

Larut dalam waktu

Aku menunggu

Malam kelam di keningku

Sujud dalam haru biru

 

Ia Mangir, lelakiku

Anak cucu Mangir

Yang tersimpan di perutku

 

 

VI

 

Maka biar seperti kubur Mangir aku harus

segera menyingkir

O, aku Pembayun yang papa

Wanita yang ditimpa bencana

Menimang bayi di perut

Tanpa lelaki sebagai penjaganya

Menyisir Kotagede ke timur

Sampai batas kali Opak yang mengalir

Jauhnya berkilo, aku sampai juga di dusun Karanglo

 

Kusiapkan tempat berbaring dari tikar pandan

Tempat merebahkan diri jika kelelahan

Kusiapkan pula untuk anakku

Pitik tulak warna putih hitam

Agar hidupnya nanti dijaga oleh alam

 

Kupelihara juga burung perkutut

Dan kutanam juga pohon serut

Agar hidup anakku kokoh di perut

 

Duh, Jabang Bayi

Angger anakku lanang

Engkau adalah anak cucu Pemanahan

Pendiri tahta Mataram

 

Raden Rangga namamu

Nama keluarga Mataram seperti ibumu

Tapi biar kupanggil kau Mangir

Agar semangat ayahmu tetap hangat dan selalu mengalir

 

Maka kuajari kamu

Dengan berbagai bekal ilmu

Agar kau menjadi seorang Kesatria

Sebagaimana ayahmu, Mangir sang perkasa

 

Laku, Pathet, dan wileding gendhing

Agar engkau paham berubahnya cuaca dan arah angin

Greget sengguh ora mingkuh

Agar engkau menjadi lelaki tangguh

 

Sebagai laki-laki

Anakku terampil mengendalikan turangga

Seperti ayahnya dia sebagai laki-laki yang teguh

Menjaga tubuhnya tegap dan kukuh

 

Laku prihatin yang aku lakukan

Ia juga turut merasakan

Mengasah batin dalam hening

Menjaga hatinya biar selalu bening

 

Rangga anak Mangir

Darah Mataram yang mengalir

Seperti sungai yang bening

Sampai ke muara lautan akan berakhir

 

 

VII

 

Rangga anak Mangir

Ia tunggangi kuda jantan dari Merapi

Ia muncul dari balik seribu gunung

Menuruni tebing menyisir bukit

Dengan tangkas ia berlari di atas pelana

 

Ia lewati tlatah Nggiring

Pleret dan Bumi Kerta

Ke utara hingga mendekati Istana

 

Ia anak Mangir

Jaka Untung orang menyebutnya

Nama samaran bocah dusun Gelaran

Saktinya melebihi para Pangeran

 

Ia telusuri  dusun demi dusun

Mencari jejak ayahnya

Dalam usia menjelang dewasa

Rangga mencari jati dirinya

 

Anak-anak seusianya saling kelahi

Begitulah cara menjadi seorang laki-laki

 

Raden Rangga terkenal sakti

Maka seluruh pemuda di setiap dusun

Pernah menjadi uji nyali teknik beladiri

 

Sepak terjang Raden Rangga

Tersiar sampai ke Istana

Anak laki-laki yang bengal dan andal

Bisa menjadi sebuah ancaman.

 

Anak lelaki yang kukuh

Anak lelaki  yang teguh

Anak Mangir Wanabaya

Dari keturunan Brawijaya

 

Ia Rangga, anak Mangir Wanabaya

Ibunya seorang puteri Mataram

Ayahnya penguasa Tanah Perdikan

 

Kubur Ayahnya di bagi dua

Satu bagian di dalam pagar istana

Satu bagian yang lain di luar tembok, kusam merana

 

 

VIII

 

Duh, Rangga putra Mangir!

Pulanglah, nak!

Langit gulita itu tandanya akan datang marabahaya

Dan badai akan segera tiba

 

Seperti mimpi buruk

Yang selalu membuat ibu terjaga

Atas nasib pahit yang mengintaimu pula

 

 

IX

 

Aku Pembayun

Ayahku Gunung Merapi

Ibuku Laut Jawa

 

Aku lahir di dalam Istana

Sebagai seorang puteri

Sejak kecil aku diajari untuk menjaga diri

Agar keturunanku kelak

Menjadi anak-anak yang mempunyai harga diri

 

Maka aku ajarkan pula

Rangga anak Mangir

Sebagai seorang kesatria

Harus berani berkorban demi menjaga wibawa

 

Tapi apakah cukup nyawa suamiku

Sehingga istri dan anaknya pun diburu?

 

O, Aku Pembayun

Yang selalu ditimpa bencana

Penderitaanku tak pernah usai rupanya

 

Rangga, anakku pralaya

Mati jatuh dari punggung seekor kuda

Yang terjerat rantai pada kakinya

Ia jatuh terpelanting dari pelananya

 

Wahai anak cucu penangkap petir

Apakah nasibku musti getir

Sebagaimana aku anak turunmu

Penderitaan selalu menguntit hidupku

 

Kepada ayahanda aku masih percaya

Di wilayahnya pula anakku mati celaka

Apakah oleh sesuatu yang disengaja?

 

Apakah salah jika aku bertanya atas nasib anakku

wahai Sang Raja?

 

Sebagai wanita sudah cukup kiranya

Pengorbananku terhadap Negara

 

Tapi apa daya semuanya telah terpagari

Oleh kekuasaan yang kuatnya seperti baja besi

Apapun ledakkan tangisanku

Tak akan mampu menjelaskan persoalan itu

Seorang Rangga adalah gelisah anak muda

Wajar jika masih suka menimang kesaktiannya

 

Apakah bocah seusia itu juga dianggap seteru?

 

 

X

 

Duh, Gusti

Dunia ini sepertinya akan segera berakhir?

Cinta sesungguhnya sudah terkubur

Suami dan anak telah membujur

 

Aku dituduhnya pula

Sebagai wanita penuh tipu daya

Meringkusmu dalam bungkus Cinta

 

Orang-orang tidak tahu apa yang ada dalam benakku

Rasa rinduku pulang ke Istana

Yang memaksa mengajak engkau ke sana

 

Bukan untuk menjerat

Karena aku takut dilaknat

 

Duh, Mangir lelakiku

Sebagai seorang istri

Kesetiaanku kepada suami adalah kesetiaan ibu bumi

Sebagaimana benih yang kau semai di rahimku

Kujaga dengan segala harkat keperempuananku

Aku ingat pertama kali kita memutuskan berangkat

Sepertinya aku sudah mendapat isyarat

 

Sesampai di sebelah barat dusun Paker

Ingatkah nyanyian burung perkutut

Yang terdengar lamat di telingamu?

 

Aku tahu engkau ragu

Hanya pada desakan rasa rinduku engkau ikuti

keinginanku

 

Apakah engkau ingat sesampai di dusun Depokan

Engkau menyatakan Cinta dengan segala kehormatan

 

Aku tahu engkau merasa terjepit

Segala persoalan sepertinya terus menghimpit

Antara mengucapkan sembah bekti

Atau tanda menyerah dengan segala upeti

 

Engkau ingat

Hanya pada bayi diperutku pula kita ikat semangat

 

Duh, Mangir aku adalah pertiwi

Aku akan setia sebagai istri

 

Pada pelarianku pula kuwujudkan cintaku

yang sebenarnya

Menjaga anakmu lahir tumbuh sentosa

 

Tetapi nyatanya adalah bencana yang memburu nasib kita

 

 

XI

 

O, Aku Pembayun

Wanita yang mencari Keadilan sebenarnya

Apakah tidak cukup laku dharmaku kepada Negara

Sehingga hidup menjadi terlunta

 

Sebagai seorang wanita

Aku sudah menjadi Senapati sesungguhnya

Mampu menjaga Negara

Menghentikan perang yang bakal merobohkan Negara

 

Sebagai wanita aku bisa menahannya

Segala kesakitan yang mendesak di dada

Apakah ini akan abadi sepanjang masa?

 

Aku Pembayun

Aku perempuan bukan hendak melawan

Tapi mengapa aku terus saja dipojokkan

Dengan segala tuduhan yang menyakitkan

 

Sebagai seorang istri

Dituduhnya aku mengkhianati suami

Menjeratnya bak seorang pelacur

Dengan menyamar sebagai seorang penari

 

Tentu ayah bisa merasakan

Betapa sakitnya hati

Tapi bagaimana aku menjelaskan

Kalau fitnah itu datang tak bertuan?

Sebagai wanita

Tuduhan itu adalah sandera

 

Lalu siapa lagi yang akan peduli

Dengan sosok wanita seperti aku ini

 

Aku paham dukungan paman Juru Mertani

Ketika aku berniat menyamar sebagai penari

karena niatku untuk menjaga konflik Negara

Agar tak terjadi perang terbuka

 

Dan ayah ternyata tak mendukungku

Bahkan menolak usulku

Hanya karena aku perempuan

Tak layak masuk ke medan pertempuran

 

Dan ayah juga tahu

Setelah Mangir menjadi menantu

Diplomasiku tak menemui jalan buntu

 

Perang besar tak akan pernah terjadi lagi

Bukankah itu kehendak rakyat yang paling murni

 

Yang aku tidak mengerti

Mengapa ketika aku datang bersama suamiku

Ayah kukuh bahwa Mangir adalah musuh

 

Yang lebih menyakitkan pula

Mengapa begitu mencium kaki

Untuk mengucap sembah bekti

Mangir dibunuh tanpa nurani?

 

O, mengapa pula mesti di batu itu

Tempat setiap saat aku mengucap sembah bektiku

 

Dan yang tak juga aku paham

Mengapa ayah tega melibatkan alam?

Mengadili jasad suamiku yang sudah mati terpendam

 

Apakah ayah masih akan berkata

Semuanya adalah demi sebuah Tahta?

 

Apa itu sudah cukup membuat aman

Dan tentram di pikiran

Dalam pemerintahan sebuah negara?

 

Atau itu memang cara Negara

Untuk menjaga Wibawa dan Kekuasaan Raja?

 

Kalau begitu apa artinya pula

Dharmaku untuk Negara

Kalau tidak bisa menjamin ketenteraman hidup rakyatnya

 

Di luar, orang-orang masih takut merumput

Sebab kalau tak untung bisa jadi maut

 

Intrik-intrik masih saja berkembang

Bahkan makin bertambah kejam

Bahwa Mangir adalah musuh Negara

Maka akarnya pun harus dicabut

Bukan aku lantas takut terhadap maut

Tapi bagiku cara itu tidak patut

 

Atau ini memang taktik Negara

Biar rakyat tunduk kepala?

 

Aku ingat sejarah nenek moyang

Ketika ayah membunuh Arya Penangsang

Dengan kuda pulalah maut itu datang

Seperti nasib anakku Rangga yang malang

 

O, sakitnya diri ini

Sakit pula Negeri ini

Suamiku mati dibunuh

Anakku pun mati terbunuh

Lantas bagaimana nasibku nanti?

 

Lalu apakah aku bisa untuk menjadi pembunuh pula?

Toh jikapun terpaksa aku tak kuat melakukanya

 

O, aku Pembayun yang sengsara

Pada Negaralah hadirnya bencana

Yang memasung cintaku yang sebenarnya.

 

Jotawang 1992-1993 , Sorosutan 2011-2015

Penutup 

PEMBAYUN

Mohammad Sobary

 

K

i Ageng Mangir Wanabaya tak mau disebut keras kepala. Ia juga tak bermaksud menentang Rajanya. Kepala Daerah perdikan Mangir itu cuma ingin mengembalikan segenap perkara pada tempatnya: Daerah Perdikan itu otonom, mandiri dan merdeka dari campur tangan siapapun, juga dari Panembahan Senapati, pendiri Dinasti Mataram itu.

Tetapi di zaman ketika ambisi akan kekuasaan bisa diwujudkan dengan cara baku bunuh seperti waktu itu, berani menyatakan merdeka di depan Raja ada taruhanya, Ki Ageng tahu hal itu.

Ia memiliki sipat kandel (senjata andalan) sebatang tombak sakti, yang bisa mencegah Panembahan Senapati berbuat aniaya terhadapnya. Dan Panembahan Senapati pun merasa perlu berpikir-pikir dulu sebelum tindak kekerasan diambil. Kali ini, atas petunjuk Ki Juru Martani, ahli strategi kraton, benturan kekuatan langsung perlu dihindari. Di lapangan, yang diuji bukan liatnya kulit atau kerasnya tulang, melainkan kelembutan tipu daya serta taktik dan strategi.

Putri Pembayun, sekaring kedaton yang ayu itu, diutus menjadi ronggeng buat menjerat Wanabaya. Taktik itu manjur. Wanabaya terpikat. Tapi juga Pembayun, keduanya sudah baku-cinta. Bahkan Pembayun mulai mengandung benih Wanabaya.

Ini kira-kira dilema berat bagi Pembayun seorang mata-mata yang menjadi umpan musuh seharusnya tidak jatuh cinta “onderdil” yang dirakit demi ambisi kekuasaan, apalagi kekuasaan keluarga, seharusnya tidak boleh lagi memiliki hati.

Ia seharusnya bisa seperti ayahnya, Panembahan Senapati, yang demi tegaknya kekuasaan bisa kejam, ganas, dan brutal. Tapi putri itu rupanya bukan piranti yang tepat.

***

 

Maka ketika Wanabaya akhirnya dibenturkan sampai hancur kepalanya di atas sebongkah batu hitam, Pembayun pun terguncang jiwanya.

Dalam puisi panjang, mirip prosa liris, Pleidoi Pembayun, karya penyair Sigit Sugito dari Bantul, Yogyakarta, keguncangan jiwa Pembayun itu tumpah dalam keluhannya.

...

Tapi bagaimana aku harus bersikap

Dalam himpitan beban persoalan

Pada pilihan pelik yang harus kutanggungkan

Di satu pihak ia Suamiku

Berhadapan dengan Ayahku

Tapi di sebalik semua itu adalah urusan Negara

Kekuasaan dan Kebesaran Kerajaan

Adalah ujung pangkalnya

***

 

Pembayun sudah mati. Barangkali benar, ketika melangkah meninggalkan Keraton menuju Mangir, ia penuh rasa bimbang. Ia tak bisa memikul tugas itu, sekalipun di bujuk dengan embel-embel “demi Negara”

Pembayun tahu, kata demi Negara di situ tak berarti begitu. Demi Negara, baginya jelas; demi ayah, paling besar demi keluarga.

Tapi setelah Wanabaya menjadi suaminya, tidakkah ia sudah menjadi keluarga? Dan mengapa ia harus dihabisi juga?

Rupanya kekuasaan, seperti halnya uang, tak mengenal kawan, tak punya saudara. Kekuasaan tak punya keluarga. Dulu, dan juga sekarang, kekuasaan tidak boleh ragu-ragu. Penguasa yang ragu tak akan lama jaya.

Penguasa harus tegas. Termasuk dalam cara menukar kekuasaan dengan kemanusiaan. Logika kekuasaan dulu maupun sekarang jelas: kekuasaan adalah kekuasaan. Ia tak perlu menimbang-nimbang, moralitas dan kekuasaan, rupanya, tak usah dipersandingkan.

Seribu malaikat boleh berteriak tentang moral, tapi bukankah realitas kekuasaan tak pernah men-cerminkan tuntutan itu?

Wanabaya menjadi tumbal. Dan Pembayun pun tak kurang-kurangnya membayar korban yang mungkin tak seharusnya ia berikan. Dan kita, yang sekarang cuma menjadi saksi ketidakadilan yang pernah terjadi, diam-diam menaruh simpati pada Pembayun. Diam-diam memihak.

Maka, terhadap protesnya, kita sepenuhnya setuju. Kita sepenuhnya menjagokannya, sebab Pembayun sebenarnya berkata untuk kita. Ia seolah masih hidup dalam jiwa kita sendiri.

...

Aku masih percaya pada kekuatan cinta dan kasih sayang

Bukan pada sebuah ancaman

 

Mengolah wibawa sebagai kekuatan

Lebih indah daripada menghias dengan ribuan mata

pedang

***

 

Suara Pembayun memang khas mewakili kaum moralis. Kita tahu moralis selalu bersitegang dengan penguasa. Karena itu jika moralis macam Pembayun harus berkuasa, kita bisa bayangkan bagaimana corak kekuasaanya. Ia boleh jadi merupakan penguasa yang lembut, adil dan manusiawai, tapi boleh jadi ia penguasa yang gagal.

Mereka yang setuju pada Pembayun mungkin akan berkata putri itu hanya bisa mengkritik. Kasarnya hanya omong, tanpa memberikan karya nyata. Ia tak bisa memberi jalan keluar sebuah kesalahan. Ia tak layak hadir.

Saya lain, kritik itu sah. Moralis menganggap cara Pembayun seorang moralis —memang bukan penguasa dan tak berbakat jadi penguasa. kodrat dasar  moralis ya omong. Omong sebagai upaya menunjukan jalan kebenaran, harganya sudah luar biasa!

Kalau omongan didengar, silakan mengolah sendiri, silakan menyikapi dengan segenap hikmah dan kebijaksanaan yang ada. Moralis tak memaksa. Ia tak ingin memojokkan orang dengan scenario ini dan itu sebagai acuan skenario boleh jadi malah menyesatkan. Dan ia tak mau berbuat begitu, sengaja atau tidak.

Pertanyaan tentang perlunya jalan keluar yang ditawarkan sebuah kritik memang baik, tapi ia sekaligus mentah dan konyol. Kenapa jalan keluar harus ada? Apakah kalau begitu berarti bahwa Pembayun yang menyesali tindak kejam ayahnya, harus dinilai batal demi kebutuhan praktis: hadirnya sebuah jalan keluar?

Pembayun, kamu tetap benar secara moral dan kemanusiaan. Nuranimu jernih. Dan kekuasaan mana pun yang menolak kebenaranmu, ia durhaka. Dan kamu sendiri yakin kedurhakaan akan membuahkan ke-durhakaan yang lain. Jangan pernah ragu Pembayun.

 

  • Referensi:

    Kompas Minggu, 6 November 1994,

                    rubrik “Asal-usul”