Jogjapedia


PIDATO KEBUDAYAAN : MELACAK JEJAK SUMBER KREATIVITAS SENI, MEMBANGUN NILAI-NILAI KEBANGSAAN INDONESIA

Jogja Kultur | 2019-01-11 | Penulis : Yudiaryani

Hadirin tamu undangan yang saya hormati,

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,

Om Swastiastu.

 

Magi dan Upacara

Perjalanan panjang melacak jejak bentuk teater primitif menghadirkan sebuah lanskap kultur perkembangan teater dari sebelum zaman kejayaan teater Yunani kuno hingga teater masa kini. Terbentang 2.500 tahun sejarah teater dan drama yang tidak dapat dilacak jejaknya. Namun, pengetahuan kita yang sedikit tentang teater dan drama secara perlahan memperoleh bentuknya pada teater Yunani dan Romawi. Bahkan kita dapat melacak sumber sejarahnya di Mesir dan Babylonia, Syria dan Syprus, Thrakis dan Creta. Sejarah panjang pembentukan teater dan drama terbentang dari masa lalu melalui magi dan mitos yang penuh ketidakpastian, kabur dan samar, tetapi menggetarkan. Apabila kita menyaksikan penemuan lukisan-lukisan kuna di gua-gua di Perancis Selatan yang berupa gambar dukun penyembuh bertopeng menyerupai rusa jantan 10.000 hingga 50.000 tahun yang lalu, maka kita mengetahui bahwa saat itulah sejarah teater dan drama dimulai.

            Perkembangan teater dan drama dimulai ketika manusia berusaha meniru tingkah laku binatang untuk meningkatkan siasat dan memantapkan perburuan. Magi simpatetik adalah magi meniru yang dilengkapi dan dikembangkan manusia dengan tarian, musik, dan penggunaan topeng. Manusia kemudian melengkapinya dengan dialog untuk menjadikan gerak tiruan, musik, dan topeng pada suatu upacara untuk menurunkan hujan, meningkatkan hasil panen, dan upacara inisiasi. Upacara-upacara tersebut kemudian digunakan pula untuk memuja arwah leluhur. Teori ini dipercaya berdasarkan pada kaitan antara teater sebagai seni pertunjukan dan teater sebagai ritual. Bukti dari keterkaitan tersebut adalah, pertama, teater berasal dari ritus. Teori yang paling tua ini terkait dengan ritus fertilitas, pembuatan hujan dan magi simpatetik. Semula manusia melihat adanya berbagai kekuatan alam yang mengerikan yang dikaitkan dengan pergantian musim. Kekuatan alam ini muncul dan lenyap atau berganti tanpa dapat diduga. Kemudian manusia memberi korban untuk menyenangkan sekaligus menenangkan kekuatan tersebut. Pada perjalanan waktu, pengorbanan tersebut menjadi suatu peristiwa yang memiliki bentuk sebagai suatu upacara keagamaan. Orang yang bertugas menjadi pemimpin upacara disebut pendeta. Upacara inilah yang menumbuhkan bibit-bibit teater. Pendeta memakai topeng yang menyerupai wajah binatang atau kostum seperti makhluk-makhluk supranatural. Kedua, teori penyangkalan Dionisus dan Osiris. Teori ini menyebut bahwa teater berasal dari cerita-cerita kepahlawanan yang belum mencapai tingkat kedewaaan. Para pahlawan berasal dari kalangan satria ataupun raja. Cerita tentang mereka disampaikan dalam tarian perang yang digunakan sebagai magi simpatetik untuk memantapkan kekalahan musuh, dan merangsang keberanian berperang. Seiring dengan ketidakmengertian manusia terhadap kekuatan alam, muncul cerita-cerita khayal tentang asal mula dan tujuan upacara-upacara keagamaan. Secara perlahan cerita-cerita tersebut berkembang dan akhirnya menjadi mitos yang dipercaya oleh masyarakat pemiliknya. Upacara keagamaan yang sebenarnya menjadi dasar berkembangnya mitos semakin menghilang, tetapi mitos yang ada di sekitar upacara tersebut tetap hidup dan berkembang. Misalnya mitos tentang penguasa alam semesta, mitos tentang penguasa laut selatan, adanya dewa matahari, dan sebagainya. Mitos tentang pendeta juga merupakan cikal bakal salah satu unsur teater. Namun pada perjalanan waktu, peran dan fungsi upacara keagamaan semakin terpisah dan menjauh dari fungsi maupun peran teater, seperti halnya peran dan fungsi pendeta yang terpisah jauh dari aktor. Ketiga, teori kesukaan dasar manusia mendengarkan cerita-cerita. Inilah yang kelak menciptakan drama dan menghadirkan penonton. Aristoteles mencatat bahwa drama Yunani kuno berbentuk dithyramb yaitu himne yang disuarakan dengan keras dan ditujukan pada dewa Dionisus. Himne ini berkaitan dengan cerita Dionisus. Kemudian episode Dionisus menghilang dan upacara keagamaan muncul.

Apabila kita mempelajari teater dan drama dengan cara tersebut, apabila kita mencari unsur-unsurnya dalam tarian, topeng atau magi pada upacara pemujaan, maka kita mengetahui bahwa jenis teater ini adalah jenis yang paling luas dan paling primitif. Namun di zaman kita sekarang banyak ditemui upacara-upacara yang melakukan magi simpatetik dan peniruan, baik oleh masyarakat primitif maupun yang menganggap dirinya sebagai masyarakat modern. Itulah sebabnya mengapa kita harus menoleh pada zaman primitif ketika kita mempelajari teater modern.

Pendekatan yang lain adalah berawal dari naskah drama yang dipentaskan oleh aktor dalam kemasan artistik di panggung. Teater semacam ini merupakan organisme yang sangat kompleks, yang ada semenjak Sophocles dan Aeshylus. Kita belajar bagaimana akting mampu mengantisipasi perubahan-perubahan tersebut untuk kemudian dihadirkan menjadi akting baru. Penataan artistik pun mengikuti perubahan dengan melakukan ciptaan-ciptaan baru, sehingga naskah drama kemudian mengalami perubahan. Ekspresi baru hadir secara timbal balik dan memengaruhi perkembangan konvensi pertunjukan dan gaya personal seorang seniman. Apabila dibandingkan jenis teater pertama, jenis teater kedua ini memiliki sejarah yang relatif pendek dan sederhana yang berlangsung hanya selama kurang lebih 3.000 tahun (semenjak 1000 BC).  Sejak saat itulah kisah tentang teater adalah kisah tentang gedung pertunjukan sekaligus pertunjukannya. Drama tidak dapat dipelajari tanpa mengamati teater secara fisik. Demikian pula sebaliknya, makna teater tidak dapat dinikmati tanpa sajian drama yang menjadi underannya.

Pada saat kita ingin mengetahui mengapa Sophocles menulis kisah Trilogi Oedipus? Maka kita akan mengetahui bahwa para dewa menghukum Oedipus karena pemujaan diri yang berlebihan. Mengapa Shakespeare mencipta tokoh Hamlet jika hanya ingin menunjukkan bagaimana buruknya balas dendam. Mengapa pula Arthur Miller bercerita tentang Death of a Salesman yang berkisah tentang  nilai-nilai fundamental masyarakat dan pengukuran kesuksesan lewat materi. Mengapa Sarah Kane mencipta kembali tokoh Phedra dalam naskahnya Phedra’s Love?  Jika bukan karena adanya diskriminasi peran perempuan dalam masyarakat maupun kehidupan domestiknya. Kekuasaan sistem patriarki menjebak perempuan hingga mengalami nasib tragis. Mengapa Rendra mencipta Bip Bop di tahun 1960-an jika bukan untuk menghindar dari cengkeraman kekuasaan pemerintah yang otoriter? Mengapa Azwar AN menghadirkan pentas Si Bachil dalam konsep seni Srandul, dan Hamlet di tahun 1970-an dengan konsep Melayu, jika bukan karena ingin menampilkan keunggulan tradisi? Mengapa Putu Wijaya meneror kita melalui naskahnya, Aduh, Awas jika bukan karena ia ingin kita semua berangkat dari apa adanya? Tidak perlu bermewah diri, tidak perlu menuntut. Kerjakan dari apa yang ada.

Jawaban dari semua pertanyaan tersebut dapat dilacak melalui analisis tentang seberapa luas ruang hidup yang dimiliki oleh teater primitif. Keberadaan ruang hidup itulah yang berhasil menunjukkan nilai-nilai moral—tentang kebaikan,  kepatuhan, balas dendam, kasih sayang, dan kepercayaan diri—yang hingga saat ini tetap dipergunakan untuk menunjukkan identitas jati diri manusia ketika mereka berhadapan dengan masyarakat, dirinya, dan penciptanya. Ribuan tahun dengan segala tantangannya, ruang hidup teater terukir jejaknya melalui doa, magi, cerita, aktor, panggung, hingga penonton. Ukiran jejaknya masih tetap dapat diketahui hingga masa kini.  Menonton teater masa kini adalah undangan melacak jejak masa lalu yang bekelindan menuju aras ke masa depan. 

 

Hadirin tamu undangan yang kami muliakan,

Keluarga besar  Teater Alam yang berbahagia.

Karya Cipta Seni

Sebuah karya cipta seni dipastikan tidak mungkin terlepas dari penciptanya. Wujud seni hadir di hadapan penonton melalui sebuah proses kreasi panjang yang tidak pernah diketahui oleh penonton, dan bahkan sering tidak dipedulikan oleh para pengamat. Proses karya cipta seni diawali dari munculnya kehendak seniman untuk mencipta, kemudian dia mengendapkan ide yang menjadi sumber ciptaannya, menggarapnya, kemudian sampailah karya cipta tersebut di hadapan  penonton.

            Kreativitas (penciptaan) tidak terjadi dalam sebuah kekosongan. Pada saat kita mengamati seseorang yang kreatif, karya kreatif, dan atau proses kreatif, sering kita mengabaikan pengaruh lingkungan. Kita terkadang memutus kreativitas dari konteksnya. Karya seni diekspresikan untuk sekadar meluapkan emosi tanpa menyadari bahwa karya seni yang dihasilkan akan membawa dampak baik dan bahkan buruk bagi penikmatnya. Lingkungan seni, akademik, budaya, atau apa pun namanya sebenarnya mampu memberi inspirasi kuat bagi kemunculan karya kreatif. Lingkungan terkait mampu pula merangsang dan mendorong munculnya kreativitas para seniman, dan mendukung seniman mendefinisikannya. Lingkungan di sini diberi makna yang sangat luas. Dalam buku Karya Cipta Seni Pertunjukan (2017) yang diterbitkan oleh Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, I Made Bandem, seniman tari dan guru besar ISI Denpasar, menyebutnya sebagai lingkungan kebudayaan yang menunjuk pada sederetan sistem pengetahuan yang dimiliki bersama, perangai-perangai, kebiasaan-kebiasaan, peraturan-peraturan, simbol-simbol yang berkaitan dengan tujuan seluruh anggota masyarakat saling berinteraksi.

            Seorang mahasiswa di Jurusan Teater ISI Yogyakarta, misalnya, begitu melangkahkan kaki ke luar dari jurusannya mendengar bunyi instrumen musik klarinet, saxophone dari Jurusan Musik di sebelah utara, dan tabuhan gamelan Bali di Jurusan Etnomusikologi. Terdengar suara hentakan kaki penari diiringi aba-aba instruktur tari dan bunyi gamelan Jawa di sisi sebelah selatan. Berjalan lebih ke selatan akan terdengar suara suluk dalang dengan irama gamelan mengiringi tampilan wayang kulit. Berhentilah sejenak di pendopo tari dan rasakan atmosfer berkesenian di Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta. Demikian juga lanskap berkesenian, seperti di Concert Hall, gedung Societet, atau Amphytheatre Taman Budaya Yogyakarta menjadi sumber pengalaman hidup para seniman pencipta.

Peristiwa kreatif pun mewarnai perjuangan manusia untuk terus mempertahankan hidupnya. Jacob Soemarjo, sejarawan teater dan dramaturg, menyatakan bahwa peristiwa kreatif manusia justru dimulai ketika ia menyadari bahwa dirinya sedang ditarik daya gravitasi pengalaman dan pengetahuan. Syarat terjadinya kreativitas adalah ketika seseorang “jatuh” ke dalam pengetahuan dan pengalaman kebenaran yang nyata. Pada saat seorang mahasiswa melangkah keluar kampus dan berada dalam atmosfer berkesenian, ia dikembalikan kepada realita; istilahnya, down to earth. Di saat menimba ilmu dan ketrampilan di jurusan, maka proses kreatif pun bergerak. Manusia akan memahami secara tuntas apa yang selama ini dianutnya “benar” sebagai suatu pengalaman yang mempribadi. Sampai pada titik ujung kebenaran yang dianutnya itu, ia akan mengalami titik balik dari yang selama ini dianutnya, dan mulailah ia berjuang untuk menemukan “jalan ke atas”. Soemarjo menyebutnya dengan “paradoks”, ibarat  anak panah siap diluncurkan maka mahasiswa calon seniman tersebut adalah busur panah yang ditarik ke belakang agar anak panah melesat kencang. Demikianlah pola ritual kreativitas terjadi. Begitulah seorang calon seniman menciptakan karya kreatifnya demi menjadikan dirinya seorang yang sujana.

Sama ketika penari kijang memerankan gerak kijang agar banyak kijang-kijang yang mendekat dan mempermudah pemburu melepas anak panahnya. Persis seperti nasib Sisyphus, tokoh legenda Yunani Kuna yang melawan perintah dewa. Dia sangat suka menjalani hukumannya. Bahkan dia sering menantang dewa untuk menghukumnya. Kesalahan demi kesalahan dia lakukan, entah sengaja atau tidak untuk memancing hukuman.  Dan hukumanpun datang. Sisyphus harus  mendorong batu hingga ke puncak gunung. Pada saat ia hampir mencapai puncak, maka dewa menjatuhkan kembali batu tersebut. Sisyphus mengejar ke bawah dan kembali mendorong batu ke atas. Dewa pun menjatuhkan lagi. Dewa memang suka becanda. Demikian berulang-ulang terjadi. Pekerjaan yang sia-sia, tetapi dia menikmati. Tidak hanya mendorong batu ke atas, tetapi merasakan juga lelehan keringat tanpa henti,  mengusap berulang luka berdarah, lelah tak terperi, lapar tak berkesudahan. Sisyphus terus mendorong dan melawan. Dia mencari siasat dan strategi dari godaan dewa yang menghalanginya mencapai puncak gunung. Melawan dan bersiasat, itulah kreativitas. Sebuah legenda konkret dan fakta imajinatif menjadi penguat bagi manusia untuk cerdas menyempurnakan hidupnya menuju cahaya.

Sal Murgiyanto, seorang seniman tari dan kritikus tari, mencipta tari Srimpi Wiwoho Girisapto. Kesedihan muncul ketika belahan jiwa dan sumber cinta mendahului menghadap Sang Pencipta. Sebuah tarian yang tercipta sesuai perjalanan hati seorang seniman Jawa. Tarian Jawa dari seorang Jawa mengalir santun dan indah dari renungan pengalaman Jawa. Ditarikan oleh penari-penari klasik Jawa, penari-penata tari Jawa, dalang dan para ahli karawitan Jawa. Sebuah karya tari yang dilakukan penciptanya untuk menandai peristiwa-peristiwa penting dalam perjalanan hidup. Satu demi satu momen kehidupan hadir bagaikan ritus yang berulang sampai membentuk suatu laku meditasi. Kekuatan dan ketangguhan manusia diuji sehingga membuka jalan bagi hadirnya rasa syukur dan ikhlas. Sebuah karya cipta yang bermula dari suatu kebahagiaan rohani menunjukkan begtu dekat hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Demikianlah bahwa kalbu yang bergerak adalah awal dari suatu penciptaan.

Saptono, pengrawit, pencipta gending-gending Jawa, staf pengajar di Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta, menuturkan proses penciptaan karya–karya gendingnya. Digambarkan bagaimana lingkungan kebudayaan serta kehendaknya yang selalu bergerak saat itu menuntun dirinya untuk terus menaikkannya ke aras kreativitas. Sejak sebelum dan selama nyantrik di Padepokan Bagong Kusudiardjo, Saptono selalu berjalan ulang alik Yogyakarta dan Semarang. Selama 6 bulan setiap malam Minggu hingga malam Senin menginap dan tidur satu atap bersama Pak Nartosabdo, tidak lain hanya ingin nyantrik pada Pak Nartosabdo dengan tujuan agar mendapat pengetahuan tentang penciptaan atau penyusunan suatu gending Jawa. Tahun 1978 adalah tahun keberuntungannya yang akhirnya mampu membuat dan menyusun tarian sekaligus mencipta atau menyusun gending ala Ki Nartosabdo. Seorang seniman bagi Saptono adalah seorang “pejalan”. Dia mengikhlaskan dirinya masuk ke dalam suatu ruang kosong, yang harus diisinya dengan berbagai pengalaman tubuh dan batin, sehingga kehadiran dirinya benar merupakan sosok yang unik, unggul, dan berkepribadian.  

Kondisi seperti inilah yang dianggap I Wayan Dibya, penari, pencipta tari, dan  sekaligus  dosen tari di ISI Denpasar, sebagai keterbukaan tradisi untuk menjadikannya sebuah karya yang fleksibel dan “belum selesai”. Dalam upaya menumbuhkembangkan seni patopengan Bali, Dibya mencipta sebuah garapan baru, yaitu drama tari topeng Tuan Tepis. Eksperimen seni pertunjukan ini dilakukan dengan memasukkan lakon modern, sebuah kisah nyata, yakni perjalanan hidup seorang seniman dan ahli seni asal Jerman, Walter Spies, di Bali ke dalam dramatari topeng tradisional Bali.  Pertunjukan topeng Tuan Tepis merupakan transformasi dari drama tari babad menjadi drama tari masa kini yang mampu berbicara fiksi di masa lalu dan fakta di masa kini.

            Dari Bandem hingga Dibya, dari Soemarjo hingga Saptono tampak suatu kerja yang sarat dengan praktik. Ibarat pejalan tanpa henti, para praktisi dihadapkan dengan fakta bahwa keterampilan mengungkapkan sesuatu yang lebih langsung dapat dikenali daripada yang sekadar dikatakan dan dituliskan. Istilah “renungan-dalam-tindakan” semacam “teks yang meng-konteks” menghasilkan tindakan yang melewati tahapan refleksi atau perenungan panjang yang terjadi secara berulang. Praktik merupakan uji coba bagaimana para seniman meningkatkan kemampuannya dengan menggarap materi dan teknik pilihan mereka.

            Begitu menggetarkan ruang hidup yang dijalani seniman kreatif. Penciptaan karya seni tidak lagi diperuntukkan sebagai ungkapan estetis seniman semata, namun, sudah merambah ke wilayah pemanfaatan bagi penontonnya. Proses kreatif seniman berhasil menunjukkan suatu kerja riset yang mendahului kerja kreatif. Atau dapat dikatakan sebagai kerja kreatif berbasis riset.  Seniman tidak sekadar pejalan tetapi juga pengamat yang handal terhadap lingkungannya. Segala hal yang terjadi di masyarakat dan yang hampir tidak pernah menjadi pengamatan masyarakat, mendapat tempat terhormat dalam proses kreatif seniman. Dari titik inilah terkadang seniman mendudukkan dirinya  menjadi pemegang nilai-nilai penjuru bagi masyarakatnya.

 

Hadirin, para seniman, pencinta seni yang kami hormati.

Rasa Kebangsaan

Pada saat bangsa Indonesia berada di depan gerbang kemerdekaan, persoalan tanah air bangsa Indonesia kelak, sesudah merdeka, masih dipersoalkan. Hal tersebut tampak pada penegasan Bung Karno dalam salah satu sesi Sidang BPUPKI (1 Juni 1945) yang berbunyi, "Menurut geopolitik, Indonesia tanah air kita. Indonesia yang bulat, bukan Jawa saja, bukan Sumatra saja, atau Borneo saja, atau Selebes saja, atau Ambon saja, atau Maluku saja, tetapi segenap kepulauan yang ditunjuk oleh Allah SWT menjadi suatu kesatuan antara dua benua dan dua samudra, itulah tanah air kita!” Penalaran seperti itu didasari oleh teori ruang hidup, "... bahwa orang dan tempat tidak dapat dipisahkan; tidak dapat dipisahkan rakyat dari bumi yang ada di bawah kakinya”.  Konsep ini menjadi sangat relevan pada masa itu, yaitu saat status wilayah Hindia Belanda dari Sabang sampai Merauke (kini Indonesia) dalam peralihan dari penguasaan Jepang ke penguasaan Sekutu (Belanda terdapat di dalamnya) sebagai pemenang perang. Dari sudut pandang geopolitik, itulah kemerdekaan Indonesia. Bangsa berikut tanah airnya (eks Hindia Belanda) memiliki landasan kuat; kondisi atau persyaratan tersebut selain ditentukan oleh pihak-pihak yang bersengketa (sekutu Jepang) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), juga dukungan masyarakat gencar membentuk bangsa Indonesia.

Setiap manusia membutuhkan negara, sedangkan negara membutuhkan ruang hidup.  Friedrich Ratzel, seorang ahli etnografi dan geografi Jerman, dan Rudolf Kjellen, seorang politikus Swedia, menyatakan bahwa negara merupakan suatu organisme hidup atau entitas biologis. Untuk itu, demi kelangsungan hidup diperlukan adanya perluasan ruang hidup atau eksplorasi, baik secara periodik maupun secara nonperiodik (perluasan ekonomi). Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memiliki falsafah hidup bangsa, dasar negara, dan ideologi nasional, yaitu Pancasila. Semuanya kehendak Tuhan Yang Maha Esa, yang harus diterima dan disyukuri sebagai suatu nikmat dan anugerah. Bangsa Indonesia tidak sedikit pun berpikir untuk eksplorasi memperluas ruang hidupnya, tetapi justru mempertahankan seluruh wilayah kedaulatan NKRI.

Sejarah perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan menunjukkan bahwa bangsa Indonesia merasakan sendiri penderitaan akibat peperangan melawan penjajah. Hal ini menyiratkan arti bahwa hidup di antara sesama warga bangsa dan bersama bangsa-bangsa di dunia merupakan kondisi yang terus-menerus perlu diupayakan agar tidak terjadi lagi bentuk-bentuk penjajahan. Sebaliknya, penggunaan kekuatan nasional dalam wujud “perang” hanyalah dilakukan untuk mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan yang juga berarti martabat bangsa dan integritas nasional. Oleh karena itu, wilayah nasional tidak menjadi ajang perang. Dalam hal ini paham kebangsaan berperan penting. Kebangsaan merupakan mekanisme kehidupan kelompok yang beragam, dengan ciri-ciri persaudaraan, kesetaraan, kesetiakawanan, kebersamaan, dan kesediaan berkorban bagi kepentingan bersama. Bangsa dan tanah air merupakan satu kesatuan; negara yang dibentuk atas dasar itu disebut negara kebangsaan. Maka negara Indonesia terbentuk mengikuti konsep kebangsaan. Menjadi satu negara kebangsaan berbentuk republik dengan mengakui kekhasan daerah. Oleh karena itu konsepsi kebangsaan harus terus ditumbuhkan pada masyarakat dan dikembangkan secara terstruktur, yaitu berturut-turut pada tingkat kesadarannya, kemudian menjadikannya sebagai suatu paham, dan mengaktualisasikannya dalam semangat kebangsaan.

Pandangan geopolitik Indonesia diperlukan, selain sebagai acuan dalam menyusun konsep kebangsaan, untuk menjelaskan fokus cara pandang bangsa dalam pembangunan nasional guna mempertahankan dan mengisi kemerdekaan yang telah diraihnya. Wilayah Indonesia semula, sesuai dengan kesatuan Hindia Belanda Territoriale Zee en Maritieme Kringen Ordonatie 1939, memiliki luas wilayah laut 3 mil dan tidak sesuai bagi wilayah RI yang terdiri dari 17.504 pulau. Oleh karena itu, pemerintah pada tanggal 13 Desember 1957 mengeluarkan maklumat tentang tata laut RI yang lebih dikenal dengan sebutan Deklarasi Djoeanda, yang memuat konsep negara kepulauan. Ketentuan itu kemudian dikukuhkan dengan UU No. 4/PRP 1960 tentang Perairan Indonesia. Konsep negara kepulauan diperjuangkan dalam forum internasional PBB dan asas negara kepulauan diterima dan ditetapkan dalam konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982 atau UNCLOS 1982.

Nilai kebangsaan membangun pengetahuan tentang kekuasaan dan ruang sebagai unsur sentralnya. Konsep “ruang” dapat diartikan secara riil dari segi geografi dan sesungguhnya ruang juga dapat diartikan secara semu dari segi keamanan, yaitu berbentuk semangat persatuan dan kesatuan yang menolak datangnya ancaman. Oleh karena itu, Karl Ernst Haushofer, seorang politikus dan pakar geografi Jerman, menamakan geopolitik sebagai suatu science of the state yang mencakupi bidang politik, geografi, ekonomi, sosial budaya, antropologi, sejarah, dan hukum. Setiap bangsa dalam rangka mempertahankan kehidupan dan eksistensinya serta mewujudkan cita-cita dan tujuan nasionalnya perlu memiliki pemahaman ilmu geopolitik yang dalam implementasinya menjadi strategi yang bersifat nasional. Strategi pemetaan menyeluruh (mapping global strategy) ke depan sangat diperlukan bagi setiap bangsa. Bagi bangsa Indonesia, Wawasan Nusantara merupakan konsep nasional dari ilmu geopolitik mengenai persatuan dan kesatuan sebagai perekat kehidupan bangsa Indonesia.

Melalui pendekatan geopolitik, potensi kehidupan, politik, strategi, dan geografi yang dimiliki oleh suatu bangsa atas dasar jati dirinya dapat dipelajari. Geopolitik menempatkan geografi identik dengan suatu negara yang bisa bertahan, menyusut, atau bisa hilang (mati). Dengan demikian, wilayah bagi suatu bangsa adalah ruang hidup dan kehidupan di mana batas-batas yang dimiliki tidak tetap, yaitu mengikuti kebutuhan bangsa yang memiliki ruang hidup tersebut. Teori ruang hidup memberikan penjelasan tentang bagaimana bangsa-bangsa di dunia mencoba tumbuh dan berkembang dalam upaya mempertahankan kehidupannya.

Pada masa-masa kekuasaan Sriwijaya dan Majapahit, wilayah Nusantara berhasil dikuasai. Dampaknya adalah penguasaan perkembangan penggunaan bahasa Melayu, dan kontak budaya lokal dengan agama Hindu, Budha, Islam, dan interaksi antarmasyarakat bangsa di wilayah Nusantara. Proses akulturasi semakin mengentalkan wujud identitas kenusantaraan. Terlebih lagi setelah pemerintah Belanda menetapkan secara resmi bahwa bahasa Melayu sebagai bahasa resmi II di bumi Indonesia (Nederland Indie). Sejak itu makin banyak pemuda dan pemudi pribumi belajar di dalam ataupun di luar negeri, misalnya di negeri Belanda. Kiprah kaum terpelajar itu menyemarakkan perjuangan kebangsaan dan kemerdekaan yang diaktualisasikan dalam berbagai gerakan di seluruh bumi Nusantara yang terorganisasi secara modern, yang menghasilkan Budi Utomo, Sumpah Pemuda, Syarikat Islam, dan Lagu “Indonesia Raya”. Bagi bangsa Indonesia, Sumpah Pemuda menjadi pendorong dan pemberi semangat untuk bersatu dan memperbaiki nasib dengan jalan merebut kemerdekaan dari penjajah. Akhirnya, kemerdekaan dapat diwujudkan setelah perjuangan selama 17 tahun, yaitu sejak 1928 sampai dengan tanggal 17 Agustus 1945.

Perjalanan panjang semenjak kemerdekaan hingga masa kini menuntut bangsa Indonesia mempertahankan identitas jati dirinya melalui keterbukaan sekaligus dialog. Tuntutan tersebut menjadi syarat mutlak bagi persiapan bangsa Indonesia bertemu dengan kebudayaan negara lain. Sebuah bangsa yang berhadapan langsung dengan segala tantangan pastilah berubah.  Bangsa Indonesia menerima budaya modern sesuai dengan kebutuhannya untuk memecahkan sejumlah masalah. Contohnya adalah bagaimana Indonesia harus mau bersinggungan dengan kebudayaan teknologis modern yang berasal dari Barat dan yang sudah bercampur dengan budaya Timur yang lebih maju, seperti Jepang dan Korea. Meskipun kebudayaan teknologis modern tersebut bersifat instrumental, netral, dan bebas nilai, bahkan juga kontradiktif, kebudayaan tersebut ampuh dalam mewujudkan sistem dan norma yang baru yang secara nyata dapat menentukan sikap hidup nyata seseorang, bahkan sekelompok orang, bahkan masyarakat sebagai keseluruhan. 

Negara Indonesia memiliki lebih dari 17000 pulau besar dan kecil, sekitar 714 suku bangsa, dan sekitar 110 bahasa daerah yang kondisi tersebut menyadarkan kita  bahwa bangsa dan negara ini mengandung sekian banyak unsur pemecah belah yang setiap saat dapat meledak dan mencabik-cabik persatuan dan kesatuan bangsa, maka jangan sekali-kali memberi peluang pada anasir-anasir pemecah belah untuk bekesempatan mencabik-cabik persatuan dan kesatuan nasional. Pemimpin yang kuat dan disegani serta mengenal betul watak bangsa Indonesia sangat diperlukan. Di lain pihak masyarakat perlu menjadi arif serta pandai menahan diri dalam menghadapi provokasi atau rongrongan/iming-iming melalui politik uang (money politics).

Proses integrasi bangsa Indonesia sejak awal kemerdekaan sampai saat ini masih mengalami pasang surut. Potensi ancaman terbesar terhadap nation sebagai suatu komunitas politik modern adalah apabila terjadi disintegrasi nasional karena melemahnya ikatan kejiwaan bangsa (collective memory) dan terjadinya pembusukan politik di kalangan elite. Potensi ancaman ini terwujud dengan tidak berfungsinya lembaga-lembaga negara dan menurunnya legitimasi elite bangsa. Hal tersebut merupakan “kerawanan” bagi integrasi nasional. Karya seni seperti teater, film, tari, dan musik mejadi jembatan yang mampu memperkecil perbedaan-perbedaan yang muncul di kalangan masyarakat dalam hubungannya dengan para pengambil keputusan. Oleh karena itu, dalam proses membangun integrasi bangsa, karya seni diharapkan mampu bertindak sebagai kontrol sosial. Fungsinya tetap dikedepankan sebagai pengamat lingkungan terhadap jalannya interaksi sosial, baik antara sesama masyarakat, maupun atas jalannya suatu pemerintahan. Karya seni diharapkan tidak menempatkan dirinya pada salah satu pihak. Faktor lain yang perlu diperhatikan dalam konteks fungsi sosial seni adalah bahwa seni mampu memperluas wawasan khalayaknya. Di sini fungsi mendidik dan pemersatu dari seni  menonjol.

Dalam rangka pembinaan integrasi bangsa Indonesia masa kini dan masa yang mendatang, perlu diindentifikasi faktor-faktor berpengaruh dari dalam negeri dan luar negeri, yaitu berupa kendala dan peluang sebagai berikut. Adanya kendala bahwa sejak era reformasi muncul kembali ideologi non-Pancasila, antara lain, ideologi agama, ideologi liberal kapitalis, dan individualis. Salah satu tujuan reformasi nasional adalah demokratisasi. Namun yang terjadi adalah kebebasan untuk mencapai kepentingan pribadi, kelompok organisasi dan daerahnya sendiri. Hal tersebut dilakukan dengan segala cara yang diwarnai oleh primordialisme dan feodalisme dengan mengabaikan kepentingan nasional. Operasi tangkap tangan yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hampir terjadi baik di kalangan birokrat maupun di partai politik dan swasta. Konflik di tengah masyarakat pun terjadi dengan munculnya sikap intoleransi. Seperti yang baru-baru ini terjadi di Yogyakarta.  Nisan salib di makam Slamet dipotong bagian atasnya oleh warga Purbayan, Kotagede, Yogyakarta. Pemotongan itu dilakukan karena warga di kawasan itu menolak ada tanda salib di pemakaman umum. Sudah selayaknya tidak ada perlakuan yang menciderai rasa kemanusiaan kita. Konflik antarkelompok terjadi di beberapa daerah. Pemberontakan dan konflik bersenjata terjadi di Aceh dan Papua. Sementara itu, penegakan hukum harus segera diperkuat. Kemampuan operasional TNI perlu dukungan peralatan yang memadai dan dukungan logistik. Di samping itu, TNI disandera oleh trauma pelanggaran hak asasi manusia di masa lampau.

Peluang yang ada bagi upaya integrasi nasional adalah bahwa Pancasila masih ditetapkan oleh MPR sebagai dasar negara dan ideologi nasional. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan pada Pasal 2 pun mengamanatkan Pancasila sebagai dasar pembentukan peraturan perundang-undangan. Ini merupakan perintah kepada para penyelenggara negara untuk mengamalkan Pancasila dalam mengatur kehidupan nasional guna mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional. Adanya parpol dan organisasi kemasyarakatan serta perseorangan yang memiliki platform Pancasila dapat menjadi peluang memantapkan pengamalan Pancasila dalam mewujudkan sistem politik yang demokratis tanpa mengabaikan kepentingan nasional. Potensi kekayaan alam Indonesia masih cukup besar dan beraneka ragam, wilayah kepulauan yang luas serta posisi geografis yang strategis merupakan modal dasar pembangunan nasional. Potensi  sumber  daya  manusia  Indonesia  dalam  sistem  ekonomi kerakyatan dengan memanfaatkan peluang dalam perdagangan bebas diharapkan berpeluang untuk meningkatkan kesejahteraan yang merata. Sistem pendidikan nasional yang telah ada merupakan peluang untuk memantapkan kembali kesadaran berbangsa Indonesia dalam wadah NKRI. Character and nation building yang telah dirintis oleh Bung Karno berpeluang untuk digalakkan kembali. Bahasa nasional bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan kesatuan bangsa harus selalu mendapat perhatian dan perlakukan yang semestinya. Bahasa daerah dan bahasa asing tidak boleh menjadi faktor penggangu integrasi nasional. Budaya Indonesia melalui pengembangan budaya nasional di samping budaya daerah, akan menanamkan dan mengembangkan rasa kesatuan dan kebersamaan sebagai bangsa yang sekalipun majemuk, tetapi tetap terikat dalam kesatuan keindonesiaan.

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memiliki karakteristik yang tidak dapat disamakan dengan negara-negara lain di dunia ini. Indonesia, baik dari bentuk maupun secara politis, berupa lautan yang di atasnya terdiri dari pulau-pulau besar dan ribuan pulau-pulau kecil. Di samping itu letaknya merupakan letak yang strategis baik dari segi astronomis maupun posisi silang. NKRI berbatasan dengan beberapa negara yang perlu mendapat perhatian karena beberapa perbatasan masih bermasalah yang  berpotensi menjadi konflik.  Dari 7 selat strategis di dunia, 4 di antaranya berada dalam wilayah kedaulatan Indonesia, hal ini sudah barang tentu menurut pandangan geopolitik dunia, Alfred Thayer Mahan, Indonesia memiliki bargining power yang kuat berupa chek point dalam pengendalian lalu lintas dunia lautan yang melewati SLOC (Sea Lines of Communication)  dan pengendalian lalu lintas udara di atasnya. Yang ke timur menembus perairan Indonesia (tidak ada jalan lain) seperti selat melalui Laut Cina Selatan (Natuna) atau Selat Makassar.

Dengan karakteristik tersebut, maka dampak yang dapat ditimbulkan di samping mendatangkan kesejahteraan bagi negara-negara lain karena posisi silangnya, juga merupakan kerawanan karena dapat didekati dari segala penjuru, sehingga Indonesia harus memiliki postur dan kemampuan yang cukup tangguh untuk dapat menjaga keutuhan NKRI dan melakukan perannya dalam ikut serta melaksanakan ketertiban dunia khususnya di kawasan Asia Tenggara.  Selain itu karateristik Indonesia dengan beragam sumber daya nasional yang dimilikinya sangat menjanjikan untuk menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia, sekaligus dapat menjadi  ancaman dari negara-negara lain, khususnya dari negara adidaya dan adikuasa.

 

Hadirin tamu undangan yang kami hormati.

Seniman dan mahasiswa yang kami banggakan.

Ketahanan Globalisasi

              Kenichi Ohmae,dengan dua bukunya yang terkenai Borderless World (1991) dan The End of Nation State (1995), mengatakan bahwa dalam perkembangan masyarakat global, batas-batas wilayah negara daiam geografi dan politik relatif masih tetap, tetapi kehidupan dalam satu negara tidak mungkin dapat membatasi kekuatan global yang berupa informasi, investasi, industri, dan konsumen yang makin individual. Ohmae juga nemberikan pesan bahwa untuk dapat menghadapi kekuatan global, suatu negara harus mengurangi peranan pemerintah pusat dan lebih memberikan peranan kepada pemerintah daerah dan masyarakat.

Globalisasi memberikan dampak yang negatif terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat dunia. Melalui teknologi informasi dan komunikasi yang canggih masyarakat seantero dunia dapat menikmati nilai-nilai budaya modern yang dapat melenturkan nilai-nilai lokal yang dapat mengakibatkan terjadinya krisis nilai dan identitas. Orang-orang cenderung bergaya hidup individualisme, pragmatisme, hedonisme, dan konsumerisme. Semangat gotong royong ditinggalkan, solidaritas dan kesetiakawanan sosial semakin berkurang. Kehidupan masyarakat semakin meninggalkan nilai-nilai keagamaan. Globalissai juga memberikan pengaruh adanya kadar dan kualitas kejahatan semakin canggih dengan mempergunakan teknologi informasi dan komunikasi. Globalisasi adalah keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit.

Ruang hidup manusia Indonesia di era globalisasi menggelitik kita untuk memperluas diri. Hingga saat ini teori ini tetap dianut dengan bukti bahwa semakin berkembangnya paham tidak diperlukannya lagi batas-batas negara yang menghambat lalu-lintas aspek-aspek kehidupan internasiona.  Konsep  negara tanpa batas merupakan strategi dan taktik negara-negara maju, yaitu tanpa kekerasan senjata dapat memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya dengan segala macam cara, tidak peduli dengan merugikan dan menyengsarakan sebagian besar rakyat negara-negara berkembang. Hal ini dilakukan karena yang utama bagi negara-negara maju tetap saja, yaitu kepentingan nasional masing-masing dengan kedok segala macam alasan yang berbau globalisasi.

Gaung globalisasi, yang sudah mulai terasa sejak akhir abad ke-20, telah membuat masyarakat dunia, termasuk bangsa Indonesia harus bersiap-siap menerima kenyataan masuknya pengaruh luar terhadap seluruh aspek kehidupan bangsa.  Derasnya arus informasi dan telekomunikasi ternyata menimbulkan sebuah kecenderungan yang mengarah terhadap memudarnya nilai-nilai pelestarian budaya. Perkembangan 3T (Transportasi, Telekomunikasi, dan Teknologi) mengkibatkan berkurangnya keinginan untuk melestarikan budaya negeri sendiri. Tugas utama yang harus dibenahi adalah bagaimana mempertahankan, budaya lokal dengan sebaik-baiknya agar dapat memperkokoh budaya bangsa yang akan megharumkan nama Indonesia. Dan juga supaya budaya asli negara kita tidak diklaim oleh negara lain. Indonesia memiliki keanekaragaman budaya lokal yang dapat dijadikan sebagai ke aset yang tldak dapat disamakan dengan budaya lokal negara lain. Budaya lokal yang dimiliki Indonesia berbeda-beda pada setiap daerah. Tiap daerah memiliki ciri khas budayanya, seperti rumah adat, pakaian adat, tarian, alat musik, ataupun adat istiadat yang dianut. Semua itu dapat dijadikan kekuatan untuk dapat memperkokoh ketahanan budaya bangsa dimata Internasional. Kekhasan budaya lokal yang dimiliki setiap daerah di Indonesia memliki kekuatan tersediri. Terbukti banyaknya turis asing yang mencoba mempelajari budaya Indonesia seperti beiajar tarian khas suatu daerah atau mencari batang-barang kerajinan untuk dijadikan buah tangan. Ini membuktikan bahwa budaya bangsa Indonesia memiliki ciri khas yang unik.   Untuk itu, budaya lokal harus tetap dijaga serta diwarisi dengan baik agar budaya bangsa tetap kokoh. Kebudayaan lokal menjadi sumber ketahanan budaya bangsa

 

Tamu Undangan yang Berbahagia

Bonus Demografi

            Salah satu tantangan besar bagi bangsa Indonesia dari aspek demografi menjelang tahun 2045 adalah adanya “bonus demografi” berupa ledakan penduduk berusia produkstif (15-64 tahun) pada kurun waktu 2025-2035 yang mencapai 40-50% dari total populasi penduduk.  Sebagian penduduk usia produktif tersebut adalah yang lahir pada 2010, atau saat sekarang (2018) sedang berusia 18 tahun. Dengan demikian perlu dipersiapkan aspek pendidikan dan kesehatan mereka sehingga akan tumbuh sebagai aset bangsa, bukan malah menjadi beban bangsa (musibah).

Masalah yang akan dihadapi manusia pada abad XXI semakin kompleks, cepat berubah, saling kait mengkait serta berdampak multidimensional yang sangat luar biasa terhadap kehidupan sebuah bangsa secara umum, tidak terkecuali Indonesia. Pemicu utamanya adalah pertambahan jumlah penduduk yang meningkat pesat dari 6,9 miliar (2011) menjadi 9,2 miliar orang (2050) atau bertambah 2,5 miliar dalam kurun waktu empat puluh tahun. Pertumbuhan penduduk akan memicu persoalan ketersediaan pangan, energi, air, kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, keamanan, bahkan eksistensi sebuah bangsa dan negara.  Pada kurun waktu yang hampir sama, pada tahun 2045, ketika Indonesia sebagai negara berusia 100 tahun, jumlah penduduk Indonesia diprediksi akan mencapai 450 juta jiwa. Asumsi ini berdasarkan angka laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,49% atau setara dengan 3,5 juta orang per tahun.  Pada saat itu, satu dari 20 penduduk dunia adalah orang Indonesia.

            Dengan bekal jumlah penduduk yang besar dan sumber kekayaan alam melimpah, banyak yang meramalkan bahwa Indonesia akan menjadi negara besar (super power), bahkan pada urutan ke 7 dunia pada tahun 2030 ditinjau dari kekuatan ekonomi. Pendapatan per kapita penduduk pada tahun 2045 diprediksi mencapai 40.000 USD, dan pendapatan domestic brutto mencapai 16,8 triliun USD.  Persoalannya adalah apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya untuk mewujudkan ramalan atau anganan atau impian atau cita-cita tersebut? Kunci utama untuk menjawab pertanyaan ini adalah tersedianya sumber daya manusia berkualitas yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengubah potensi sumber daya alam menjadi aset lalu menjadi kapital. Untuk menghasilkan SDM berkualitas harus melalui proses pendidikan dalam arti luas yang mampu mencerdaskan kehidupan bangsa.  Bangsa yang tidak menguasai IPTEKS akan terpinggirkan dan akan selalu tergantung pada bangsa lain dalam banyak aspek kehidupan.  Dengan kata lain menjadi bangsa yang tidak merdeka, berdaulat, makmur, bahkan bisa jadi kehilangan harkat dan martabat.

            Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, terkait dengan pendidikan, perlu dilakukan evaluasi dan dirumuskan ulang bagaimana membangun paradigma baru pendidikan nasional guna mempersiapkan generasi emas dalam rangka ketahanan nasional 100 tahun Indonesia merdeka. Tantangan yang dihadapi oleh pendidikan nasional pada abad ke-21 ini semakin berat dan kompleks karena harus mampu menghasilkan bangsa yang cerdas, kompetitif, dan tangguh serta mampu mencerdaskan kehidupan bangsa menuju masyarakat adil, makmur, dan sejahtera, di tengah kepungan persaingan global dan regional.

Seratus tahun setelah merdeka, 1945-2045, visi Indonesia akan menempatkan Indonesia menjadi negara yang tangguh, ekonominya kuat dan berkeadilan, yang demokrasinya matang dan stabil, dan yang peradabannya unggul dan maju. Visi pembangunan Indonesia di tahun 2045 akan menjadikan Indonesia memiliki emerging economy yang kuat, tangguh, dan semakin adil sebagai penyangga kelestarian lingkungan.  Indonesia akan menjadi productive, innovative, and sustainable high income economy. Garis kecenderungan tersebut akan berada di tahun sekitar 2030. Indonesia menjadi negara maju, developed country, developed nation. Indonesia menjadi negara maju yang membangun bangsa berdasarkan Paradigma Nasional, yaitu Pancasila sebagai landasan idiil, UUD 1945 sebagai landasan konstitusional, Wawasan Nusantara sebagai landasan visioner, dan Ketahanan Nasional sebagai landasan konsepsional.

Menghadapi perjuangan di abad ke-21 bangsa Indonesia berada pada situasi yang kompleks yang hanya mampu diselesaikan oleh sumberdaya manusia yang cerdas dan kompetitif. Visi pembangunan bangsa yang membimbing bangsa Indonesia hingga tahun 2045 harus menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang ulet dan tangguh. Untuk itu diperlukan paradigma dan praksis baru pendidikan yang mampu menjadi penjuru aktif dan dinamis yang mampu memposisikan pendidikan pada kedudukan tertinggi dalam pembangunan nasional. Paradigma tersebut adalah Pendidikan sebagai Panglima Pembangunan Nasional. Agar posisi paradigma tersebut kuat, efektif, dan produktif, maka harus didukung dengan praksis pendidikan yang mencerminkan strategi  yang mencerdaskan kehidupan bangsa, menghasilkan bangsa yang kompeten dan kompetitif, serta menjadikan bangsa  yang ulet  dan tangguh. Kebijakan praksis yang diperlukan guna mendukung terimplementasinya Paradigma Baru: Paradigma Baru Pendidikan Nasional akan Menghasilkan Bangsa Yang Cerdas, Kompetitif, Ulet dan Tangguh.

Kontribusi Paradigma Baru Pendidikan Nasional guna Menyongsong 100 Tahun Indonesia Merdeka, yaitu menjadikan pendidikan sebagai arus utama (mainstream) dan leading sector pembangunan nasional guna menghasilkan sumberdaya manusia yang cerdas, kompetitif, serta ulet dan tangguh. Praksis Baru Pendidikan Nasional guna Menyongsong 100 Tahun Merdeka., yaitu berbasis pada kebudayaan multikultural yang bertujuan agar melahirkan sumber daya manusia yang memiliki toleransi tinggi; mewujudkan tujuan nasional, yaitu “mencerdaskan, mensejahterakan, dan melindungi bangsa, serta ikut menertibkan dunia”.

 

Hadirin, tamu undangan yang berbahagia

Perubahan Paradigm – Mental Set –Values

Saya letakkan suatu pernyataan sekaligus pertanyaan di dalamnya. Bagaimana sumber-sumber kreativitas seni menginspirasi terjadinya perubahan Pendidikan Nasional yang berbasis pada nilai-nilai kebangsaan.

Menempatkan kreativitas seni sebagai titik awal membaca pendidikan nasional memunculkan kenyataan bahwa seni hadir karena situasi kemasyarakatan. Seni di Indonesia hidup dalam lingkungan dua alam budaya. Pada satu pihak, ditumbuhkan oleh suatu kebudayaan tertentu yang dalam konteks kebangsaan disebut kebudayaan daerah. Kebudayaan daerah mempunyai sejumlah ciri khas yang dibina lewat keajegan tradisi. Pada pihak lain, diwujudkan kembali oleh adanya kebutuhan suatu hamparan kebudayaan yang lebih luas yang tidak semata-mata menganut cita-cita daerah asalnya. Ketergantungan seni di Indonesia pada konteks menyebabkan kehadirannya juga tergantung pada kebutuhan masyarakat. Interaksi sosial bergeser, wujud keseniannya pun bergeser, dan akhirnya identitas seni pun bergeser. Seni di Indonesia yang pada awalnya hadir karena kehendak kelompok pendukung kebudayaan tertentu, masa kini mereka yang berasal dari daerah lain pun didorong untuk memiliki rasa kepemilikan seni tersebut. Dengan demikian, interaksi sosial menyebabkan seni di Indonesia yang berasal dari suatu kebudayaan daerah tertentu memperoleh pemasukan citarasa dari kebudayaan lain.

Dengan menggeser karakter seni di Indonesia dari yang kedaerahan menjadi baru, berarti seni membuka ruang-ruang pembebasan pada nilai kedaerahannya. Proses pembebasan tersebut dianggap Umar Kayam sebagai ’pembebasan budaya-budaya daerah’ dan Rendra menyebutnya dengan ’mempertimbangkan tradisi’, sedangkan Emha Ainun Nadjib menyebutnya dengan ’budaya tanding’. Proses ini menunjukkan bahwa seni daerah dengan karakternya yang cair, plastis, dan dinamis, bergulat dalam rangka menemukan jati dirinya dalam suatu wajah dan kualitas seni Indonesia yang berkarakter modern dan bahkan kekinian. Ruang-ruang pembebasan seni di Indonesia yang berkarakter daerah mendapat tempat di hati anggota masyarakat yang sedang mengalami perubahan atau transformasi nilai.

Transformasi terjadi pada nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia, yaitu dari nilai budaya kedaerahan ke tatanan nilai budaya negara-kebangsaan, nilai budaya Indonesia yang menggeser budaya agraris tradisi ke tatanan budaya industri modern. Dalam pengertian bahwa kata ”Indonesia” sendiri sudah mengandung karakternya yang modern, maka penyebutan istilah “Seni Indonesia” digunakan bagi semua wujud seni di Indonesia, baik yang berkarakter tradisi maupun modern. Di sinilah kemudian tampak bagaimana pergeseran paradigma seni dari yang semula bersifat tradisional menjadi modern disebabkan kehendaknya untuk mempersatukan seluruh seni daerah menjadi Seni Indonesia tanpa menghilangkan unsur-unsur kedaerahannya. Hal tersebut juga menjadi tantangan tersendiri bagi insan-insan seni bagaimana menggabungkan seni tradisional dengan ide-ide kreatif mereka yang telah bersinggungan dengan ide kreatif dari daerah lain dan bahkan dengan ide dari mancanegara.

Masa kini menuntut cara berkesenian yang progresif, baik ekspresi maupun resepsinya. Pendidikan seni diharap untuk selalu meng-up grade dan mengritisi dirinya sendiri, sehingga mampu menjadi suatu representasi dari gaya seni Indonesia. Artinya bahwa seni menjadi pembelajaran bagi peserta didik untuk menggunakan masa lalu sekaligus memberi tanda budaya bagi dirinya dengan cara yang berbeda-beda. Peristiwa sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang mempengaruhi cara pandang masyarakat Indonesia masa kini membutuhkan perubahan paradigma tentang pemikiran, persepsi, serta nilai dasar realitas yang berlaku. Visi realitas baru didasarkan atas kesadaran akan saling-terhubung dan saling-tergantung semua fenomena biologis, psikologis, teknologis, sains, sosial, dan seni. Semuanya terhubung menjadi suatu realitas sistemik yang, menurut Capra Fritjof, merupakan suatu sistem biologi yang memandang suatu organisme sebagai suatu sistem hidup yang saling terhubung dan terintegrasi dalam suatu interaksi timbal balik.  Sistem tersebut membuat jejaring yang kompleks yang layak untuk dilestarikan. Bukan pelestarian individu-individunya saja tetapi justru jejaring yang bertumbuh membentuk suatu organisme baru. Bagi seni masa kini, bentuk tampilan organisme barunya sering disebut sebagai seni kolaborasi.

Implementasi pergeseran paradigma tersebut memberi inspirasi bagi perubahan-perubahan konvensi seni. Pada satu sisi, akan terungkap suatu jaringan atau sistem dari berbagai elemen kesenian, dan pada sisi lain, seni masa kini menjadi bentuk seni setelah seni modernis. Seni pertunjukan masa kini meneruskan elemen di masa lalu, tetapi bergeser  dengan lebih menekankan pada reinterpretasi konvensi secara menyeluruh. Terjadi pergeseran dari paradigma linear menjadi paradigma berkelok dan berlapis. Subyektivitas kreatif seniman dikembangkan dengan meregenerasikan elemen-elemen pertunjukan tanpa menghilangkan vitalitas kreatifnya. Hasilnya adalah beragam bentuk seni feminis, seni antropologis, seni lingkungan, dan sebagainya. Demikian juga potensi kreatif penonton menjadi bagian merevitalisasi nilai-nilai budaya. Jumlah penikmat seni masa kini membuktikan bagaimana estetika seni mulai diapresiasi dengan baik oleh penonton awam. Bahkan seperti yang dikatakan Janet Wolff bahwa seni masa kini hadir karena penontonnya. Seni masa kini memungkinkan terjadinya suatu pergumulan, dan tarik menarik secara interteks antara kreativitas seniman dan resepsi penonton, serta terjadinya ketegangan terus menerus antara nilai kedaerahan, nilai nasionalisme, dan nilai internasionalisme untuk membentuk nilai-nilai kebangsaan Indonesia.

Pergeseran paradigma tampilan seni—dari bentuk seni tradisi menuju seni modern hingga seni masa kini—mampu menjadi inspirasi bagi kehadiran penciptaan seni karya seni berperspektif kebangsaan. Ruang hidup pendidikan nasional bergerak secara kreatif, progresif, dan komprehensif seraya melacak jejak sumber kreativitas seni untuk membangun nilai-nilai kebangsaan. Pertama, pergeseran paradigma proses pendidikan dari paradigma pengajaran ke paradigma pembelajaran yang banyak memberi peran peserta didik untuk mengembangkan potensi dan kreativitasnya. Seni memiliki sejarah panjang mengelola tema-tema cerita yang berkisah tentang perjuangan tanpa henti tokoh utama demi menemukan jati dirinya. Manusia yang sejati adalah sosok yang tidak mengikuti arus semata, tetapi teguh pada pendirian, ora mingkuh dalam tataran makrifat, karena dari perjalanan tokoh, peserta didik mampu menganalisis bagaimana meraih cita-cita ke depan dan bagaimana membebaskan diri dari semua hal yang menindas.

Kedua, pergeseran paradigma manusia dari berbagai sumber daya pembangunan bangsa menjadi subyek pembangunan bangsa secara utuh. Proses pembentukan manusia pada hakikatnya merupakan proses pendidikan yang membudayakan dan memberdayakan peserta didik sepanjang hayat. Karya seni hadir karena kehendak masyarakat pendukungnya. Tanggapan estetik dari penonton yang berlangsung secara terus menerus menjiwai semangat penciptaan karya seni. Demikian juga sebaliknya,  penghormatan pada nilai budaya luhur tradisi bermanfaat sebagai cermin bagaimana manusia memperbaiki diri dan hidupnya. Kecintaan pada akar budaya daerah akan membuat peserta didik tidak gamang menghadapi serbuan budaya luar. Nilai tradisi tidak akan menyebabkan peserta didik rendah diri, tetapi justru berani mengkolaborasikannya dengan nilai budaya lain secara kreatif, sehingga menghasilkan karya-karya baru tanpa kehilangan cita rasa tradisi.

Ketiga, pergeseran paradigma tentang keberadaan peserta didik dari puncak keberhasilan individual menuju pribadi yang terintegrasi dengan lingkungan sosial-kulturalnya. Pemahaman diri peserta didik akan berada dalam tahapan aktualisasi intelektual, emosional, dan spiritual. Seni masa kini, misalnya, menghubungkan kemampuan menganalisis dengan ketrampilan penciptaan artistik yang dimiliki seniman. Unsur budaya masyarakat mengikuti alur pergeseran estetika kesenian. Seni masa kini membaca nilai-nilai yang pernah disampaikan di dalam bentuk karya seni sebelumnya. Karya seni kontekstual melekat pada perubahan semangat zaman. Namun demikian, pendidikan kontekstual tidak akan lepas dari bimbingan tekstualnya. Mereka diharapkan tetap berpegang teguh pada nilai lokal yang menjadi akar kepribadian mereka, serta mampu menjadi peserta didik yang bermutu yang mampu mengembangkan lingkungannya dengan cara yang kreatif dan dialogis. Maka peserta didik tidak gamang masuk ke dalam kekuatan budaya global.

Keempat, pergeseran paradigma dengan mengikut sertakan konsep pendidikan seni yang progresif dan visioner dalam Pendidikan Nasional. Negara Indonesia terbentuk mengikuti konsep kebangsaan. Menjadi satu negara kebangsaan berbentuk republik dengan mengakui kekhasan daerah. Rasa dan semangat kebangsaan tertanam di dalam jiwa segenap rakyat Indonesia dan keadaan tersebut hanya dapat terwujud melalui upaya pendidikan yang dapat menyentuh kesadaran setiap pribadi. Dengan kesadaran kebangsaan yang mengakar kuat, setiap anggota masyarakat dengan sadar akan mengabdikan ilmu dan ketrampilan profesinya bagi kepentingan bangsa dan negaranya.

Sistem pendidikan seni di Indonesia diharapkan mampu beradaptasi terus menerus dengan perkembangan zaman tanpa menghilangkan peran aktif nilai-nilai luhur budaya bangsa  yang terbukti mampu menjadi tempat ziarah sekaligus membawa peserta didik berhasil memasuki lorong dari masa kini hingga ke aras masa depan dengan kreativitas yang progresif dan dinamis. Pergeseran paradigma seni yang terus menerus terjadi mampu menjadi cara untuk membaca pendidikan di Indonesia. Pergeseran paradigma seni menginspirasi terjadinya pergeseran paradigma pendidikan di Indonesia. Diharapkan kemudian paradigma baru menghasilkan pergeseran mind-set peserta didik dalam rangka menguatkan nilai-nilai akhlak mulia sebagai nilai kebangsaan Indonesia. Amin.

 

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Om Santi, Santi, Santi Om

  • Referensi:

    DAFTAR PUSTAKA

    Anderson, Benedict. Imagined Communities. Terj. Omi Intan Naomi, Yogyakarta: INSIST, 2001.

    Budiman, Hikmat. Pembunuhan Yang Selalu Gagal. Modernisme dan Krisis Rasionaitas Menurut Daniel Bell, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1997.

    Capra, Fritjof. Titik Balik Peradaban. Sains, Masyarakat dan Kebangkitan Kebudayaan. Terjemahan, M.Thoyibi, dari The Turning Point. Science, Society and The Rising Culture,  Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 200.

    Gurvitch, Georges. “The Sociology of the Theatre”, dalam Sociology Literature & Drama, Great Britain: C.Nicholls & Company Ltd., 1973.

    Kayam, Umar. “Pembebasan Budaya-Budaya Kita”, dalam Agus R. Sarjono, ed., Pembebasan Budaya-Budaya Kita. Sejumlah Gagasan Di Tengah Taman Ismail Marzuki, Jakarta: PT Gramedia Utama dan Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, 1999.

    Magnis Suseno, Franz. Filasafat kebudayaan Politik. Butir-Butir Pemikiran Kritis, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1992.

    Rendra, Mempertimbangkan Tradisi , Jakarta: PT Gramedia, 1984.

    Sarjono, Agus R. ed. Pembebasan Budaya-Budaya Kita. Sejumlah Gagasan Di Tengah Taman Ismail Marzuki, Jakarta: PT Gramedia Utama dan Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, 1999.

    Sedyawati, Edi. Pertumbuhan Seni Pertunjukan, Jakarta: Penerbit Sinar Harapan, 1981.

    Suwignyo, Agus. “Kurikulum dan Politik (Kebijakan) Pendidikan”, dalam Mangunwijaya. Kurikulum yang Mencerdaskan. Visi 2010 dan pendidikan Alternatif, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2007.

    Modul Wawasan Nusantara, Bidang studi Geopolitik dan Wawasan Nusantara, Lembaga Ketahanan Nasional RI Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) XLIX Tahun 2013

    Narasi Laporan Hasil Seminar PPRA XLIL Lemhannas RI kepada Presiden RI Soesilo Yudojono di Istana Negara 1 November 2013.