Jogjapedia


GEROBAK

Jogja Kultur | 2019-01-10 | Penulis : Adji

Derak gerobak sapi kadang  terlihat dalam lintasan, pelan mengejar deru modernisasi zaman yang sudah tidak lagi ramah pada lingkungan. Tidak ada yang tahu pasti, sejak kapan hewan menjadi bagian dari dinamika kehidupan di tanah Jawa. Dalam buku “ The History of Java “, Raffles mencatat: Kerbau dan Sapi biasa digunakan untuk membajak sawah.

Dalam catatannya Raffles menyebut, sapi di Jawa berasal dari keterunan sapi India. Ada dua jenis sapi yang biasa dijumpai di Jawa. Yang disebut sapi Jawa, merupakan keturunan campuran. Sedangkan sapi bengali bercirikan punuk di bahu. Sapi yang telah dikebiri digunakan sebagai pengangkut. Sapi biasa dipakai sebagai ternak dan menjadi hewan yang sangat berharga bagi petani miskin.

Untuk mendapatkan sapi dengan kualitas baik, peternak sapi membawanya ke hutan untuk dikawinkan dengan banteng liar. Kerbau dan sapi sangatlah berarti bagi petani pada masa itu, keduanya bisa digunakan untuk membajak sawah, sedangkan untuk membawa barang, biasa mengunakan kuda beban atau sapi yang dirasa cocok untuk  jalan datar. Pada bagian lain, Raffles menyebut “gerobak” sebagai alat transportasi, ada yang menyebutnya “pedati”. Bentuknya unik, dengan dua buah roda berdiameter sekitar 5-6 kaki, dan lebarnya 1-2 inchi, yang ditarik oleh dua ekor kerbau, dengan jarak tempuh sejauh 60 mil menuju Batavia. Dalam berbagai literature, penyebutan “gerobak” sudah ada sejak abad ke 2 SM.

Kebudayaan telah memberikan daya bagi dinamika kehidupan manusia. Dengan olah pikir pada zamannya, manusia telah mampu menciptakan alat transportasi yang memberikan kemudahan. Keberadaan hewan yang pada awalnya liar, dijinakan sedemikian rupa sehingga memberikan kemanfaatan bagi kehidupan. Dalam tradisi Jawa disebutkan, sebagai seorang Jawa harus terampil dalam merawat kuda dan merawat gajah, tidak menyebutkan sapi sebagai hewan yang mendapatkan perlakuan khusus. Kemungkinan tersebut bisa saja terjadi, karena keberadaan hewan sapi sangatlah jarang disebut sebagai bagian hewan yang lazim digunakan untuk pertempuran.

Dalam rangkaian gerobak, terdapat berbagai bagian. Ujung melengkung di depan namanya trucuk. Tepong nama penutup belakang gerobak. Rem disebut klusut. Tali rem namanya gulak. Kayu panjang menengadah ke atas namanya manukan.Tempat leher sapi disebut sambilan, kayu yang menggelantung untuk mengunci leher sapi disebut angkul-angkul.

Tali kekang disebut dadung. Batang leher gerobak disebut cancatan. Sedangkan segitiga yang menghubungkan cancatan dengan badan gerobak disebut sikon. Di belakangnya ada tumpangsari tempat bajingan ( pengendara gerobak )duduk mengendalikan sapi. Empat tiang kecil disebut drajuk.Per roda atau ban disebut gonjo, rangka segi empat menopang gerobak disebut watonan. Payonan adalah atap gerobak, dan gribig adalah anyaman bambu sekaligus dinding di kanan dan kiri gerobak. Embel-embel adalah semacam sirip di belakang gerobak.

Zaman sudah berubah “gerobak” yang pada awalnya digunakan sebagai alat transportasi, saat ini peruntukannya telah bergeser, “gerobak” berubah menjadi barang antic yang meramaikan  industry pariwisata. Bentuknya yang unik memberikan kesan antic dan mengesankan kenangan yang lampau. Seiring dengan perkembangan pariwisata, bentuk dan bahan gerobak sapi berubah. Yang pada awalnya sangatlah sederhana, berubah dengan berbagai variasi. Atap yang pada mulanya terbuat dari bambu dan ijuk. Sudah berganti dengan seng ataupun terpal. Untuk bahan kerangka yang baik terbuat dari kayu jati, namun seiring dengan semakin langkanya kayu jati, berbagai pilihan jenis kayu menjadi alternatif: kayu besi, sonokeling, atau mahoni.

Ciri khas yang menjadikan gerobak terlihat indah, terdapatnya berbagai motif hiasan bernuansakan tradisi. Aneka motif dengan warna warna cerah, mulai dari: wayang, hewan ternak, ikan ataupun pemandangan alam, memberikan kesan tersendiri bagi yang melihanya. Untuk bagian roda, roda gerobak sapi yang asli terbuat dari besi, saat sekarang mengunakan roda ban truk, yang lebih ringan dan menyesuaikan dengan jalan yang beraspal.

Kenyataan sejarah “gerobak” telah menjadi bagian dari alat transportasi pada masanya, keberadaannya memberikan kemanfaatan yang multi guna: sebagai alat angkut manusia dan barang, memberikan status sosial bagi pemiliknya. Mengembalikan  alat transportasi tradisional “gerobak” menjadi bagian dari alat transportasi masa kini, tentulah suatu hal yang mustahil, terkecuali hadirnya hanya untuk dinikmati sebagai klangenan. Namun mendambakan alat transportasi yang nir polusi dan ramah lingkungan menjadi bagian dari dinamika kebudayaan, sudah seharusnya menjadi bagian pergolakan pemikiran pada era kekikinian.

  • Referensi:

    -