Jogjapedia


Mengenal Ragam Hias Batik

Jogja Kultur | 2019-01-10 | Penulis : RA Yudi Aningtyas

Seni batik pada dasarnya termasuk seni lukis. Seni batik, dapat dilihat dari berbagai aspek seperti antara lain : Proses pembatikan atau pembuatan, mutu pembatikan, ragam hias dan tata warna.

Letak geografis Indonesia menjadi salah satu faktor utama banyaknya kunjungan dari berbagai wilayah. Kunjungan ke Indonesia pada dasarnya merupakan perdagangan. Proses yang terjadi menimbulkan dan mempengaruhi kesenian dan kebudayaan setempat, terutama daerah pesisir. Kebudayaan dan kesenian dari luar diserap, disaring dan dipadukan dengan kebudayaan yang telah ada, sehingga kemudian lahirlah karya-karya baru dengan keindahan, keunikan dan kepribadian tersendiri. Hal ini terlihat pula pada kesenian lainnya, seperti seni ukir kayu atau tembaga, anyaman, busana dan ragam hias tenunan. Demikian pula pada batik, baik dalam ragam hias maupun warna.

Silih berganti berbagai negara berlomba-lomba datang ke Indonesia. Banyak diantara pendatang (Gb. 2,3) ini yang memakai kain batik atau membuat barang-barang khas dari batik untuk kebutuhan mereka seperti tokwi (Gb. 4) dan lain-lain.

Di daerah pesisir kontak yang terjadi tidak hanya dengan dunia luar saja, tetapi juga kontak antar daerah. Itulah yang menjadi sebab seringkali dijumpai persamaan dalam ragam hias atau warna pada batik antar daerah, dengan gaya yang berbeda sesuai selera daerah yang bersangkutan. Sebagai contoh ragam hias Merak Ngibing (Gb. 5), Madura (Gb. 6) dan Garut (Gb. 7) – yang berdekatan letaknya dengan Indramayu – mempunyai pola dasar yang sama, tetapi memiliki gaya serta selera pewarnaan yang berlainan.

Ragam hias batik pesisir tidak luput dari pengaruh ragam hias Solo-Yogya. Hal ini dapat dimengerti karena kesenian membatik berasal dari daerah ini. Sebagai contoh antara lain dengan adanya ragam hias Sawat atau Lar yang berlatarkan kebudayaan Hindu-Jawa dan merupakan ragam hias khas Solo-Yogya, meskipun di daerah pesisir ragam hias ini merupakan hiasan semata tanpa memberikan arti simbolis kepadanya. Begitu pula umpamanya batik ragam Tambal yang di jumpai di daerah Solo (Gb. 8), Yogya (Gb. 9), Pekalongan (Gb. 10), Cirebon (Gb. 11) dengan berbagai penampilan ragam hias dan warna menurut gaya atau selera daerah masing-masing.

Perlu diterangkan, bahwa sangatlah sulit untuk menarik suatu garis yang tegas mengenai ciri-ciri khas batik dari berbagai daerah; ini disebabkan adanya pengaruh timbal balik antar berbagai daerah. Dengan mempelajari dan mempertimbangkan unsur-unsur yang berpengaruh di suatu daerah, akan sangat membantu untuk mengetahui dari daerah mana batik tersebut berasal. Penunjang lain untuk mengetahui daerah asal batik, antara lain tata warna, isen-isén yang khas dari daerah tersebut, jenis batik dan ukuran.

Diketahui juga bahwa di Jambi terdapat pembatikan dan hasilnya sangat digemari di Sumatera Barat dan Sumatera Selatan. Pada batik Jambi ini – yang termasuk batik pesisir – terlihat pengaruh antara lain dari Indramayu, Cirebon dan Lasem, seperti misalnya ragam hias Banyak Mandi (Gb. 12) dari Cirebon juga di Jumpai di Jambi, yang di Sumatera Barat dikenal dengan nama Kerak Angus (Gb. 13). Tidak semua ragam hias mempunyaib nama dan arti, terutama di daerah pesisr. Seringkali sehelai batik disebut dengan nama juragan batiknya.

Secara garis besar terdapat 2 golongan ragam hias batik, yaitu ragam hias geometris dan ragam hias non-geometris.

Yang termasuk golongan geometris adalah:

  1. Garis miring atau Parang (Gb. 14)
  2. Garis silang atau Ceplok dan Kawung (Gb. 15)
  3. Anyaman (Gb. 16) dan Limar (Gb. 17)

Yang termasuk golongan non-geometris adalah:

  1. Semen (Gb. 18)
  2. Lunglungan (GB. 19)
  3. Buketan (Gb. 20)

  • Referensi: