Jogjapedia


Tokoh : Azwar AN

Jogja Lakon | 2019-01-10 | Penulis : R Toto Sugiharto

Lahir di Palembang, Sumatra Selatan, 6 Agustus 1937. Sejak masa remaja Azwar sudah menyukai sandiwara. Ia dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan keluarga pecinta dan pemain sandiwara. Pamannya, Djamaluddin Malik merupakan sineas dan produser perusahaan film Persari (Perseroan Artis Indonesia).

Meski mengaku tidak pandai hitung dagang, Azwar pernah menggantikan peran ayahnya, Anwar Gelar Radjo Mara, yang tengah sakit cukup lama, menafkahi keluarganya dengan berdagang  hingga berhasil membuatkan warung kelontong untuk orang tuanya.

Kecintaannya pada sandiwara – saat itu disebut tonil – mendapat dukungan dari keluarganya. Maka, sedari kelas lima di sekolah rakyat pada 1954, Azwar sudah mendirikan kelompok tonil. Namun, Azwar saat itu sudah menggunakan istilah “teater” dengan memberi nama kelompoknya, Teater Raden Intan. Dari situlah Azwar memulai karier di dunia teater. Hingga   pada 1960 Azwar  menghasilkan sejumlah pertunjukan di Tanjung Karang, Lampung, antara lain Pemetik Lada, Ayahku Pulang, dan Terima Kasih, Pujaanku.

Azwar juga sudah terobsesi untuk menetap di Yogyakarta. Dari koran Indonesia Raya dan Pedoman yang dibacanya, ia mengetahui kota Yogyakarta yang sudah ternama sebagai kota budaya. Demikian pula cerita guru pengampu bahasa Indonesia, Maryono di SMP Negeri 2 Tanjungkarang mendorong Azwar semakin kuat pada keinginannya berhijrah ke Yogya.

Sesampai di Yogya, Azwar melanjutkan pendidikan di SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta. Lulus SMA ia menimba ilmu di Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi) seraya aktif di Teater Muslim pimpinan Mohamad Diponegoro. Azwar juga merangkap kuliah di Fakultas Ekonomi UGM meski akhirnya tidak sampai lulus. Selanjutnya, Azwar berkolaborasi dengan Teater Ikasdrafi memanggungkan lakon Tuan Kondektur serta bersama Teater Sriwijaya, antara lain Mr. X, Jebakan Maut, Pantomim, dan Lawan Catur. Kemudian bersama Teater Antasari dalam Alam Roh Kalimantan serta Teater PWI Yogyakarta, antara lain Badai Asmara dan Nao Tungga Magek Jabang.

Dari pernikahannya dengan Titiek Suharti, Azwar memiliki tiga anak, masing-masing Azmakiyanto Ronny Amperawan AN, Erna Azmita AN, dan Erni. 

Kelak, peran Azwar AN sangat menentukan bagi perkembangan teater modern Indonesia. Dialah yang berhasil membujuk Rendra untuk kembali berteater setelah kepulangannya dari Amerika Serikat Si Bururng Merak menyatakan meninggalkan teater dan hendak menjadi pelukis. Selama berhari-hari pada 1969 Azwar nyambangi kediaman Rendra guna membujuknya untuk mendirikan teater dan menerapkan ilmunya yang ditimba dari Negeri Paman Sam.

Karena kerasnya kemauan Azwar, Rendra pun tidak mampu berkutik lagi. Ia mulai merespons keinginan Azwar, antara lain dengan memperdengarkan musik klasik dari koleksi piringan hitamnya yang diborong dari Amerika. Rendra meminta Azwar melakukan gerakan improvisasi yang kemudian diberi nama “gerak indah”. Azwar melontarkan nama Sanggar Teater Rendra untuk kelompok teaternya tapi ditolak Rendra yang tidak suka namanya dibawa-bawa. Kemudian dicoba mengajukan istilah workshop teater. Itu pun tidak disukai Rendra. Sampai akhirnya Rendra sendiri yang memberinya nama Bengkel Teater.

Kelak Azwar juga yang menemukan metode latihan teater. Ia juga mendapat kepercayaan dari Rendra untuk menentukan diterima atau ditolak dari orang-orang yang berkeinginan bergabung bersama Bengkel Teater. Sejumlah nama yang menyusul bergabung antara lain Moortri Purnomo, Titiek Broto, Putu Wijaya, Syubah Asa, Chaerul Umam, Amak Baldjun, Tertib Suratmo, dan lainnya.

Produksi perdana Bengkel Teater diberi judul Mini Kata sebagai hadiah ulang tahun Soe Hok Djin alias Arief Budiman di Balai Budaya Jakarta. Selanjutnya, mengalir pula repertoar Oedipus Rex, Hamlet, Machbet, Qasidah Al Barzanji, Modom-modom, Menunggu Godod, dan Dunia Azwar. Di Bengkel Teater Azwar juga sudah berperan sebagai sutradara.

Pada 1972 Azwar hengkang dari Bengkel Teater dan mendirikan Teater Alam pada 4 Januari 1972. Sebelum memanggungkan lakon drama, Teater Alam menggelar pertunjukan musik bertajuk Underground Music pada April 1972 di Sporthall Kridosono Yogyakarta. Menyusul kemudian pementasan sejumlah repertoar, antara lain Di Atas Langit Ada Langit, Si Bakhil, Ketika Bumi Tak Beredar, dan lainnya. Teater Alam juga manggung ke Malaysia mewakili Indonesia dalam Kuala Lumpur Art Festival 2. Di bawah kepemimpinannya, Teater Alam berkembang dengan dukungan personel hingga mencapai tiga puluhan dan produktif mementaskan lakon panggung. Bahkan, kemudian kehidupan teater di Yogyakarta tumbuh subur, dengan dirintisnya arisan teater oleh Azwar AN hingga melahirkan actor-aktor dan kelompok teater baru di Yogya.

Azwar juga sempat menekuni dunia film pada 1974, sebagai aktor maupun sutradara. Puluhan film an sinetron yang diproduksi dan didukung Azwar AN, antara lain  Bing Slamet Koboi Cengeng (1974 aktor dan asisten sutradara),  Ateng Mata Keranjang (1975 aktor), Janur Kuning (1979) aktor, Gadis (1980, sebagai asisten sutradara), Kejamnya Ibu Tiri Tak Sekejam Ibu Kota (1981, sebagai sutradara),  Nyi Mas Merah (sinetron 1986, sebagai sutradara), Susuk Nyi Roro Kidul (1993, sebagai sutradara), dan lainnya.

  • Referensi:
    1. Wawancara dengan Azwar AN Minggu 23 Desember 2018 di rumahnya, Jalan Sawo I Nomor 6 Perumahan Wirokerten Kotagede Yogyakarta.
    2. Roso Daras dan Yudiaryani. 2018. Azwar AN Manusia Teater. Yogyakarta: Teater Alam bekerja sama dengan Dinas Kebudyaan DIY