Jogjapedia


PAWIYATAN JAWA: Telaga Kehidupan Budaya, Bahasa Dan Aksara Jawa

Jogja Kultur | 2019-01-04 | Penulis : Abdul Afif Rosyidi

Budaya dan bahasa merupakan saudara kandung yang tidak bisa dipisahkan. Suatu suku bangsa bisa dipastikan memiliki budaya yang terwujud dari cipta, rasa dan karsa serta bahasa sebagai sarana komunikasi dan sekaligus sebagai sarana pelestarian budaya suatu suku bangsa, tidak terkecuali budaya dan bahasa Jawa.

Berbicara budaya dan bahasa Jawa tentunya tidak akan bisa lepas dari penggunaan aksara Jawa, karena ketiganya akan saling terkait. Eksistensi budaya dan bahasa Jawa akan terjaga dengan eksisnya aksara Jawa. Banyak karya para pujangga Jawa yang didalamnya memuat tata nilai lan ajaran moral, kearifan lokal, ilmu pengetahuan, budaya dan adat istiadat dan lain sebagainya yang kesemuanya ditulis dengan bahasa dan aksara Jawa. Akan tetapi sangat disayangkan karya pujangga Jawa tersebut sudah tidak dapat diakses oleh generasi muda penerus budaya, bahasa dan aksara Jawa.

Era sekarang ini generasi penerus budaya, bahasa dan aksara Jawa yang notabene adalah pelajar sudah tidak tahu perihal budaya, bahasa dan bahasa Jawa. Sebagian besar generasi muda Jawa sudah tidak mampu memahami budaya dan menggunakan bahasa serta aksara Jawa dengan baik dan benar. Budaya, bahasa dan aksara Jawa kalah oleh hadirnya budaya, bahasa dan aksara manca yang menurut mereka lebih terlihat keren bila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Melihat kenyataan tersebut tentu kita tidak bisa tinggal diam, karena itulah Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta yang digawangi oleh Drs. Suraya membuat wadah dan sarana pelestarian budaya, bahasa dan aksara Jawa yang diberi nama Pawiyatan Jawa.

Program Pawiyatan Jawa bertujuan untuk 1. terselenggaranya kegiatan Pawiyatan Jawa sebagai upaya mendorong pembelajaran budaya Jawa di Daerah Istimewa Yogyakarta, 2. Menanamkan nilai-nilai luhur warisan budaya Jawa dari nenek moyang bagi masyarakat Yogyakarta, 3. Melakukan pembinaan dan pengembangan budaya Jawa khususnya bahasa Jawa, 4. Mendorong proses pembelajaran bahasa Jawa di lingkungan pendidikan informal, 5. Menerapkan dan mempraktekkan penggunaan bahasa Jawa pada anak-anak didik, 6. Meningkatkan apresiasi dan kreatifitas anak didik berbahasa Jawa, 7. Menggali potensi, menyalurkan minat dan bakat para anak didik dalam pembelajaran budaya Jawa/bahasa Jawa, 8. Sebagai media pembinaan dan pengembangan serta pemanfaatan bahasa dan aksara Jawa, 9. Menanamkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam budaya Jawa, sebagai warisan nenek moyang bagi masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta, 10, Kaderisasi dalam bidang pembangunan dan pengungkapan kembali khasanah budaya Jawa (aksara Jawa supaya tetap eksis dalam era globalisasi), serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya agar dapat diketahui oleh warga masyarakat pemakai bahasa Jawa.

Pawiyatan Jawa diselenggarakan di Kabupaten/Kota se-DIY yang untuk sementara diselenggarakan di Desa Budaya Beji Ngawen Kabupaten Gunungkidul, Desa Budaya Gilangharja Panda Bantul, Desa Budaya Tuksana Sentolo Kulon Progo, Kelurahan Budaya Kricak Tegalreja Kota Yogyakarta dan Sanggar Memetri Wiji Tamanan Taman martani Kalasan Sleman.

Pelaksanaan kegiatan Pawiyatan Jawa disesuaikan dengan kondisi peserta kegiatan Pawiyatan Jawa (Wasis Maca lan Nulis Aksara Jawa) yang terdiri dari siswa-siswi SD, SMP, SMA sederajat, sehigga secara otomatis kegiatannya diselenggarakan pada sore hari. Kegitan Pawiyatan Jawa diformat dalam bentuk kelas yang diselenggarakan dengan metode yang menyenangkan dan media pembelajaran yang diselenggarakan dengan Simulasi berdasarkan panduan silabus Pawiyatan Jawa. Adapun materi yang diajarkan di Pawiyatan Jawa berupa pembelajaran membaca, menulis aksara Jawa (Wasis Maca lan Nulis Aksara Jawa), belajar pidato bahasa jawa, dan berlatih karawitan (musik Jawa), dan busana Jawa.

Guna tercapainya maksud dan tujuan Pawiyatan Jawa secara optimal, maka Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta membentuk Tim Instruktur dan pendamping intruktur yang terdiri dari berbagai unsur diantaranya dari kalangan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) bahasa Jawa, praktisi, dan akademisi bidang bahasa, sastra, dan seni budaya Jawa pada umumnya, serta dibantu oleh staf Seksi Bahasa Jawa Dinas Kebudayaan DIY.

Kegiatan Pawiyatan Jawa untuk kedepannya diharapkan dapat diselenggarakan dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten, sampai propinsi. Akan tetapi tentunya kegiatan Pawiyatan Jawa mengharapkan dukungan dan kepedulian dari setiap elemen pemerintahan atau unsur masyarakat terhadap pengembangan dan pelestarian budaya daerah termasuk di dalamnya bahasa dan aksara Jawa, sehingga kedepannya Kegiatan Pawiyatan Jawa benar-benar dapat menjadi Telaga Kehidupan Budaya, Bahasa dan Aksara Jawa

  • Referensi:

    -